Thursday, September 15, 2005

Titipan yang Terindah

Oleh: Dian Hakim

“Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa “ (QS. 25:74)

Cuplikan ayat di atas adalah doa yang banyak diamalkan oleh kaum Muslimin, yang menggambarkan betapa kita mendambakan keluarga dan keturunan penerus umat yang baik kualitasnya dalam segala hal. Sebagai orang tua, kita juga mengharapkan bahwa anak-anak kita nantinya menjadi insan yang setidaknya berkualitas sama dengan orang tuanya atau bahkan lebih baik.

Anak adalah buah hati orang tuanya. Kehadirannya selalu ditunggu untuk meramaikan satu rumah tangga. Anak-anak adalah pelipur hati di saat duka, dan juga tambatan hati orang tuanya. Satu hal yang harus kita ingat setiap saat adalah bahwa anak merupakan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada kita. Dia dilahirkan dalam keadaan putih bersih dan suci. Kitalah sebagai orangtua yang memberinya warna dan membentuk kepribadiannya. Dalam proses pembentukan kepribadian anak, sikap orangtua terhadap anak sangat mempengaruhi bagaimana hubungan anak dengan orangtua secara keseluruhan, termasuk di dalamnya pola asuh. Padahal, sikap orangtua sangat beragam, mulai dari kurang peduli sampai dengan yang sangat mencintai dan mencurahkan perhatian penuh kepada anak.

Jadi sikap orangtua terhadap anak mempengaruhi bagaimana orangtua memperlakukan anak, mendidik dan mengasuh anak (pola asuh), menghadapi perilaku-perilaku maupun kenakalan anak. Sikap merupakan keadaan yang menyifati hubungan orangtua terhadap anak.

Berikut ini ada beberapa tips praktis yang diharapkan dapat membantu para orangtua khususnya ibu dalam menghadapi beberapa masalah yang umum kita jumpai dalam mengasuh anak-anak kita.

Masalah yang pertama adalah komunikasi dengan anak. Komunikasi itu sendiri adalah suatu mekanisme yang menunjang kita untuk menciptakan, membina atau bahkan merusak suatu hubungan. Cara kita berkomunikasi satu dengan yang lainnya itulah yang membentuk hubungan kita dengan orang lain. Dalam hal berkomunikasi dengan anak, ada beberapa hal yang harus diingat. Yang pertama adalah bahwa perasaan seorang anak merupakan hal yang penting sekali sebagaimana pentingnya keberadaan mereka bagi kita. Jadi, kita harus mencoba untuk menyelami dan mengerti perasaan anak kita dari waktu ke waktu, dan untuk itu kita harus mendengar pendapat dan perkataan mereka. Kadang-kadang kita sebagai orangtua sering menuntut anak untuk mendengarkan dan mengikuti perkataan orangtua hanya untuk mendapatkan label ‘anak yang baik dan patuh’. Padahal anak itu sendiri mempunyai perasaan dan cara sendiri yang untuk memahaminya, dibutuhkan kepekaan orangtua. Pengenalan kita terhadap perasaan anak akan mengarah kepada perubahan yang positif pada tingkah laku anak, karena mereka merasa dihargai dan dimengerti oleh orangtuanya. Jadi, marilah kita mulai meluangkan waktu untuk mendengar anak kita, dan mengerti akan perasaannya. Dengan mengenalkan perasaan tersebut kepada anak kita, maka berarti kita telah mengajarkan kecerdasan emosi, yang akibatnya mereka merasa dihargai dan dimengerti, serta akan terhindar dari rasa frustasi yang menyebabkan tingkah laku negatif. Orangtua yang peka, mengenali, dan menghormati perasaan anak-anaknya akan menumbuhkan komunikasi yang lebih baik dengan anak dan juga memperbaiki tingkah laku anak.

Masalah kedua yang umum kita jumpai pada anak-anak kita adalah ‘tantrums’ yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan ‘mengamuk’. Mengamuk ini adalah sifat yang umum dijumpai pada anak usia pra sekolah yaitu sekitar 2 – 5 tahun. Biasanya anak-anak mengekspresikan perasaan marah dan frustasi mereka dengan bergulingan di lantai, menendang-nendang, berteriak, dan ada juga yang kadang-kadang menahan napasnya, tergantung sifat anak itu sendiri. Mengamuk ini adalah suatu proses yang alami, khususnya bagi anak-anak yang belum bisa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan mereka. Kebanyakan anak-anak mengamuk di tempat tertentu dan pada orang tertentu pula, misalnya di pusat perbelanjaan dan pada ibunya. Cara penanganan anak yang mengamuk ini tergantung tingkat energi yang dimiliki anak dan kesabaran orangtua menghadapinya. Untuk mengatasi anak yang mengamuk kita sebagai orang tua harus mempelajari dan mengamati tingkah laku anak kita sehingga kita bisa melihat kecenderungan apa saja yang memicu mereka untuk mengamuk dan apa yang terjadi pada saat itu serta hal apa yang bisa membantu meredakannya. Dengan pola tersebut kita bisa mencegah terjadinya ‘tantrums’ dan kalaupun sudah terjadi kita tahu bagaimana menanggulanginya. Contoh kasus yang sederhana dan sering dijumpai adalah anak yang ngambek pada saat diajak sang ibu berbelanja. Hal yang paling mungkin terjadi adalah sang anak bosan dan terlalu lama menunggu. Yang harus diantisipasi sang ibu adalah membawa mainan atau buku kesukaan anak kita, membawa makanannya dan berbelanja yang perlu saja dengan cara membuat daftar belanja.

Cara lain untuk menghadapi ngambeknya sang anak adalah dengan mengalihkan perhatian mereka dari hal yang membuat mereka marah dan mengamuk. Atau bila sudah terlanjur ngambek kita juga harus menjaga tingkat emosi kita sehingga tidak terbawa marah dengan pura-pura mengabaikan mereka dan tidak menanggapi ngambeknya sang anak. Kita juga bisa bernegosiasi dengan anak dan melakukan ‘timeout’, yaitu menghindar sebentar untuk menata emosi kita dan anak sehingga tidak ‘meledak’. Anak juga harus diberi pilihan dan sebaiknya kita menghindari ancaman sebagai senjata menghadapi anak, sehingga anak akan belajar bahwa mereka bertanggung-jawab terhadap hal-hal yang mereka kerjakan. Memberikan pujian kepada anak juga memacu anak bertingkah laku positif, karena mereka tahu pasti dan jelas bahwa kita suka dan bangga akan sikap mereka tersebut.

Terakhir, masalah yang umum dijumpai pada anak adalah susah makan. Banyak ibu yang sudah kehabisan akal dan jurus untuk merayu anaknya makan. Hal ini terkait dengan mitos bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat. Akibatnya banyak ibu yang memaksa bahkan mengancam anaknya untuk makan sehingga menciptakan suasana makan yang tidak menyenangkan dan malah dihindari oleh anak. Berikut ini ada beberapa hal yang memicu anak susah makan, antara lain adalah kurang sabarnya orangtua menyuapi atau menunggui anak makan sehingga anak selalu dalam keadaan terburu-buru makannya. Hal lain adalah orangtua menuntut anak untuk banyak makan padahal sang anak sudah merasa kenyang. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa makan terlalu banyak adalah perbuatan yang tidak baik dan hanya pantas bagi hewan-hewan. Anak-anak sudah mempunyai takaran sendiri, berapa kadar makanan yang diperlukan oleh tubuh mereka dan porsinya berbeda dengan orang dewasa. Suasana makan yang kurang menyenangkan juga membuat anak malas makan. Misalnya selama waktu makan orangtua mencekoki anak dengan nasihat-nasihat yang akhirnya membebani anak. Anak yang terlalu banyak jajan juga mengurangi konsumsi makan ‘besarnya’ karena anak sudah keburu kenyang.Gaya makan keluarga juga ikut mempengaruhi gaya makan anak, dan hal ini harus menjadi bahan introspeksi orangtua. Bila orangtua malas makan, anaknya tentu akan meniru kebiasaan orangtuanya dan orangtua tidak bisa memaksa anak untuk merubahnya karena anak hanya mencontoh kebiasaan orangtuanya.

Mendidik anak berlangsung setiap hari, setiap saat, setiap detik. Tulisan ini hanya mengulas sedikit sekali tentang peristiwa besar yang setiap saat dialami oleh buah hati kita. Semoga Allah SWT selalu memberi kita kesabaran dan petunjuk dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kita menjadi insan yang taqwa. Sesungguhnya anak adalah titipan terindah yang diamanahkan kepada kita, hal ini juga selalu mengingatkan kita untuk berbakti kepada kedua orangtua kita.

(Sumber dari “Salahnya Kodok” oleh Mohammad Fauzil Adhim dan “Tips and Ideas on Parenting Skills”, NSW Parenting Program for Mental Health) [oOo]


*) Diterbitkan di Buletin Jumat KPII, Edisi No. 11, 9 April 2004

Puasa Dan Kesehatan Lahir Batin

Oleh Mary Liziawati*

Hampir tak satu pun kewajiban ibadah dalam Islam yang luput dari hikmah maupun manfaat lahiriah, demikian halnya dengan puasa. Ibadah puasa tanpa diragukan lagi sangat bermanfaat ditinjau dari segala segi. Apalagi jika ditinjau dari segi kesehatan. Banyak para ahli kesehatan yang telah mencoba untuk mengungkap rahasia dibalik puasa ini, namun baru sedikit sekali rahasia yang dapat mereka ungkap.

Hal yang telah umum dikenal didunia kesehatan bahwa aktivitas puasa merupakan salah satu terapi bagi kesembuhan suatu penyakit, yang teryata telah dikenal beratus-ratus abad yang lampau. Bedanya, barangkali, orang terdahulu maupun sekarang yang tidak atau belum beriman-Islam, melakukan puasa tersebut bukan karena dilandasi kesadaran dan ketaatan kepada Alloh SWT tapi hanya sekadar ritual proses terapi yang harus dilalui. Dari sinilah kenapa para pandeta Nasrani selalu berpuasa. Menurut mereka, puasa merupakan obat mujarab dalam menyembuhkan penyakit. Bahkan, Plato maupun Socrates pun konon tak luput dari membiasakan diri berpuasa sepuluh hari dalam setiap bulannya. Alasanya, menurut mereka, sebagai ekspresi penyucian pikiran.

Untuk itulah paling tidak dengan hikmah dari sisi kesehatan saja, maka kesadaran dan keimanan kita untuk melaksanakan perintah Alloh SWT untuk menjalani puasa Ramadhan akan semakin kokoh dan kuat sehingga akan teguh menjalankan syariat-Nya. Karenanya kekhawatiran dari sebagian kaum muslimin, yang terkadang terlontar dalam bentuk pernyataan bahwa dengan puasa Ramadhan akan membuat tubuh lemah, tidak bergairah, kehilangan motivasi serta pemikiran negatif lainnya akan hilang dan tidak laku sebagai alasan pembenaran untuk tidak puasa. Karena memang itu semua tidak berdasar sama sekali. Maha benar Allah dengan firmanNya dalam QS 2:216: “....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Subhaanallah! Itulah sebabnya mengapa Imam Syafii pernah mengatakan bahwa kullu fi'lillaah bil hikmah --setiap perbuatan Allah pasti mengandung hikmah.

Untuk lebih tegasnya dapat kita baca dari beberapa penelitian medis, sebagaimana diungkapkan oleh Muazzam dan Khaleque (Journal of Tropical Medicine 1959) dan juga oleh Chassain dan Hubert (journal of Physiology, 1968), yang menunjukkan bahwa tidak ada perubahan kadar unsur kimia dalam darah orang berpuasa selama bulan Ramadhan. Kadar gula darah memang menurun lebih rendah daripada biasanya pada saat-saat menjelang magrib, tetapi tidak sampai sama sekali membahayakan kesehatan. Begitu pula kadar asam lambung yang akan meningkat pada saat menjelang magrib di hari-hari pertama puasa, tetapi selanjutnya akan kembali menjadi normal.

Dengan demikian puasa Ramadhan kira-kira 14-17 jam (tergantung musim dan letak geografis) dari terbit fajar hingga terbenam matahari ternyata tidak berpengaruh terhadap kesehatan, yang justru lebih besar manfaatnya bagi kesehatan ketika kita berpuasa sebenarnya adalah justru niat dan kemauan untuk menahan nafsu. Sebagaimana arti dari puasa (shaum) itu sendiri, yakni menahan.

“Sesungguhnya bagi setiap amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang ia dapatkan apa yang ia niatkan....” (HR.Bukhari-Muslim)

Hal ini menjadi sesuatu yang logis dan dapat dibuktikan dengan ilmiah, karena sebagian besar penyakit yang diderita manusia sebenarnya berkaitan dengan perilaku manusia itu sendiri. Dari penyakit infeksi sampai ke penyakit jantung, penyakit akibat stres, bahkan beberapa jenis kanker erat kaitannya dengan perilaku tidak sehat manusia.

Ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa mereka yang sedang marah, baik yang dipendam maupun dinyatakan, sedang "panas hati" oleh sebab apa pun, atau sedang dilanda rasa tidak sabar, akan meningkat kadar hormon katekholamin dalam darahnya. Hormon katekholamin ini akan memacu denyut jantung, menegangkan otot-otot, dan menaikkan tekanan darah. Semua itu, jika dibiarkan berlangsung lama, akan membahayakan kesehatan dan mempercepat proses ketuaan.

Niat dan kemauan menahan nafsu, rasa marah, rasa tidak sabar, atau rasa panas hati ketika sedang berpuasa, akan mencegah terjadinya peningkatan kadar hormon katekholamin dalam darah. Efek inilah yang sebenarnya lebih besar pengaruhnya terhadap kesehatan dalam pengertian yang positif, karena ia akan menghindarkan seseorang dari efek buruk akibat kadar hormon kelompok katekholamin yang meningkat secara berlebihan ketika orang marah, kesal, panas hati, dan tidak sabar.

Sabda rasulullah saw: "Bila salah seorang dari kalian berpusa maka hendaknya ia tidak berbicara buruk dan aib, dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah "aku berpuasa"."
(HR Bukhari)

Para dokter sepakat bahwa puasa merupakan salah satu cara membersihkan tubuh dari lemak-lemak berpenyakit maupun dari makanan yang tidak bermanfaat di dalam tubuh. Tubuh, selain membutuhkan konsumsi makanan, juga perlu dibersihkan dari berbagai zat kimia yang akan merusak anggota tubuh itu sendiri. Saat berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi secara alami. 'Absen' nya makanan yang biasa masuk ke dalam perut, membuat organ-organ tubuh seperti hati dan limpa 'membersihkan diri'. Racun-racun yang dibuang pun 10 kali lebih banyak. Karena racun yang dikeluarkan lebih banyak dari biasanya, maka proses penuaan bisa di 'rem' untuk sementara. Itulah sebabnya bila kita melakukan puasa dengan benar, wajah kita tampak lebih berseri.

Di luar bulan Ramadhan pun, ahli kesehatan sekaliber Ibnu Sina (980-1037 M), seorang dokter Muslim kenamaan pada masa itu, menerapkan konsep ini dimana ia selalu mengharuskan setiap pasien yang datang kepadanya untuk berpuasa selama tiga minggu (tentunya diikuti dengan niat liLlahi ta’ala, karena Alloh semata). Bagi Ibnu Sina, puasa merupakan terapi efektif dan murah-meriah dalam menyembuhkan penyakit pasien-pasiennya. Bahkan di zaman modern sekarang ini, seorang dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin asal Amerika, Robert Partolo, menyepakati bahwa tradisi mengosongkan perut dan menahan hawa nafsu yang berasal dari ajaran Islam, ternyata setelah diterapkan kepada pasien-pasienya merupakan terapi mujarab dalam memberantas bakteri sifilis yang terkandung di dalam tubuh mereka. Dengan berpuasa, lanjutnya, bakteri tersebut akan digantikan dengan zat-zat yang menyehatkan. Begitu pula dokter lain, Bernard Mackpadan, yang juga pakar biologi berkebangsaan Amerika bahkan meyakini puasa merupakan cara jitu dalam memberantas setiap penyakit yang tidak bisa disembuhkan terapi yang lain.

Bagaimana halnya dengan ibu hamil dan menyusui, apakah diperbolehkan menjalani ibadah puasa?. Pada masa kahamilan dan menyusui, faktor psikis merupakan hal yang amat penting bagi kesehatan sang bayi atau janin yang sedang dikandung. Dengan berpuasa, berarti seseorang berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan kedekatan seseorang kepada Allah inilah yang akan memberikan ketenangan jiwa. Selain itu salah satu manfaat puasa jika ditinjau dari segi medis adalah dapat mencegah pertambahan berat badan yang berlebihan selama masa kehamilan.

Bagi yang mampu menjalankan puasa, hal itu baik sekali bagi mereka. Dengan selalu menjaga susunan gizi pada saat berbuka puasa dan sahur, maka kebutuhan bayi dan janin akan supply makanan dapat tetap terpenuhi dan terjaga.

Pada dasarnya ibu hamil atau yang sedang menyusui bisa saja berpuasa jika mereka sanggup. Artinya, mereka tidak merasakan lemas badan yang berlebihan. Tetapi jika tidak demikian keadaannya, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Karena Alloh SWT pun memberikan keringanan kepada hambanya yang merasa berat menjalani ibadah puasa. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk dalam kelompok orang-orang yang difirmankan Allah : "... Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin ..." (QS. 2:184)

Sedangkan bagi mereka yang mempunyai penyakit maag, jika masih ringan, biasanya ibadah puasa justru akan menyembuhkan karena pola makan menjadi teratur.


Pengaturan Gizi Seimbang di bulan Ramadhan

Untuk mengoptimalkan kita melalui bulan suci Ramadhan, agar bisa menjadi bulan yang spesial yang dipenuhi amaliah yang bersifat ubudiyah dan muamalah, maka kesehatan badan kita juga harus ditunjang dengan konsumsi makanan bergizi sesuai dengan kebutuhan tubuh, yakni yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, serta mineral dan vitamin yang berasal dari buah-buahan dan sayuran.

Makan sahur penting artinya bagi kesehatan tubuh. Dari sisi syari’ah pun makan sahur sangat dianjurkan. Rasulullah saw bersabda: "Makanan waktu sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur"
(HR Ahmad).

Walaupun dari hadits di atas disebutkan sahur dengan seteguk air, namun bukan berarti kita tidak perlu memperhatikan masalah gizi dalam makanan sahur kita. Makan sahur dengan makanan yang lengkap dan seimbang sangat diperlukan untuk menopang tubuh melakukan aktivitas sepanjang hari. Oleh karena itu bila saat sahur kita tidak mendapat cukup karbohidrat yang merupakan sumber energi, kita cepat merasa lemas dan tak berenergi di siang hari.

Bersegeralah berbuka puasa, karena pada saat itu tubuh memerlukan asupan sebagai pengganti kadar glukosa darah yang turun. Dalam hal ini rasulullah saw bersabda: "Manusia tetap berkondisi baik selama tidak menunda-nunda berbuka puasa" (HR Bukhari).

Akan tetapi tetap adab (etika) harus diperhatikan juga, dimana dari sisi kesehatan dianjurkan tidak langsung makan makanan yang banyak mengandung lemak dan manis-manis, seperti tape, uli, kolak, dan lain-lain. Sebab lemak dan karbohidrat tinggi tidak bagus untuk kesehatan. Jadi, sebagai pembuka makan sebaiknya mengkonsumsi salad, buah-buahan, atau minuman sirup. Begitu pula tidak terlalu banyak memakan makanan yang mengandung gula. Karena berdasarkan penelitian, dinyatakan bahwa kebutuhan ideal setiap orang terhadap gula itu sekitar 30 gram sehari, atau dua sendok makan gula.

Selain itu saat buka puasa, dianjurkan juga tidak cepat-cepat menyantap makan berat. Karena lambung yang telah mengecil karena tidak bertugas selama belasan jam, akan kaget ketika tiba-tiba diisi makanan dalam porsi besar, tentunya hal ini akan mengakibatkan perut terkejut dan mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencerna makanan tersebut. Sebaiknya setelah shalat Maghrib, barulah menyantap makanan yang berat (nasi, lauk-pauk hewani, nabati, dan sayur-sayuran). Sebaiknya Konsumsi minum air putih ditingkatkan sesudah shalat tarawih, dan diteruskan sesudah makan sahur. Minumlah sebanyak 15 gelas (kurang lebih 3 liter) atau minimal 10 gelas.

Selain itu perlu juga diketahui bahwa seseorang yang berpuasa tidak perlu menambah vitamin atau suplemen apabila dirasa makanan sudah cukup. Karena kelebihan Vitamin B atau C akan terbuang dalam urine.


* Penulis adalah Alumni FK-UI 1997.

Wanita: Berbedakah dengan Pria?

Oleh: Rosmaladewi Rasyid *)

Tak diragukan Islam adalah agama yang sempurna sebagai sebuah sistem hidup dan sistem hukum yang meliputi segala perkara yang dihadapi manusia. Allah Swt berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu...” (QS. An-Nahl 16:89)

"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah SWT" (Surah Al-An’am:6:57). "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, Rasul, dan Ulil Amri dari kalangan kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah masalah itu kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian." (SurahAn-Nisa’:4:59).

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka se- sungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata"(QS. Al Ahzab 36).

Jadi pada umumnya laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan kecuali yang merupakan kodrat Allah SWT seperti halnya hamil, me­lahirkan, dan menyusui, sehingga mengakibatkan perbedaan jasmaniah (biologis) dan perbedaan kejiwaan (psikologis) yang kemudian membedakan peran dan tugasnya. Bahkan dalam ke­hidupan sehari- hari, laki- laki dan perempuan mempunyai persamaan. Maka lahirlah istilah- istilah seperti di bawah ini:

1. Kesetaraan jender

Kesetaraan jender yaitu kesamaan kondisi untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan serta kesamaan hak dalam me­nikmati hasil pekerjaan atau pembangunan.

2. Keadilan jender

Keadilan jender adalah suatu kondisi dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Firman Allah, artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu ‘ (QS. Al Hujarat, 49: 13).

Ayat tersebut menjelaskan kesamaan antara laki-laki dan perempuan yang diciptakan oleh Allah SWT, dari berbagai bangsa dan suku dengan ciri khas masing- masing agar lebih mudah saling mengenal. Tak ada perbedaan di mata Allah SWT kecuali tingkat ketakwaan hambaNya. Dia memerintahkan untuk berlaku adil baik terhadap laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak ada diskriminasi di antara keduanya baik dalam perlakuan hukum maupun menjalankan hukum, atau syariat agama lainnya. Perbedaan laki-laki dan wanita bukanlah suatu halangan bagi manusia untuk mencapai ketakwaan kepada Allah SWT, karena Allah akan memuliakan siapa saja yang bertakwa kepada-Nya.

Aplikasi kesetaraan dan keadilan Jender

1. Aktivitas Keagamaan

Firman Allah SWT, yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun pe­rempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan lapangan kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa-apa yang mereka telah kerjakan”. (QS. An-Nahl ayat 97).

Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, jangan menyia- nyiakannya karena bernilai ibadah dihadapan Allah SWT, laki-laki yang beramal saleh akan mendapatkan pahala dan wanita yang beramal saleh akan mendapatkan pahala. Begitu pula sebaliknya dalam perbuatan dosa, laki-laki dan perempuan akan mendapatkan balasan yang setimpal” Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan sebesar biji zarrahpun niscaya ia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula (A- Zalzalah99:7-8).

Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Iman harus diaplikasikan dengan amal saleh, dan amal saleh harus dilandasi pada iman. Oleh karena itu, siapa saja yang menunjukkan imannya dalam bentuk amal yang saleh, insya Allah balasan berupa kehidupan yang baik menantinya.

2. Aktivitas Politik

Dapat disaksikan betapa maraknya partai islam turut meramaikan pesta pemilu tahun ini. Dengan demikian diharapkan tak ada lagi Islamophobia, di mana orang selain umat islam takut jika partai Islam membangun negara Islam atau menerapkan hukum Islam di Indonesia. Tugas umat islam selanjutnya adalah harus menunjukkan bahwa Islam bukanlah ancaman, melainkan “rahmatan llilalamin.” Tugas kita kemudian adalah memperjuangkan negara yang islami karena tak gunanya negara Islam bila tatanan masyarakatnya tidak islami.

Marwah Daud Ibrahim mengatakan bahwa “permintaan pencantuman angka 30% dalam quota partai politik adalah perlakuan khusus sementara, sampai tiba saatnya perempuan bersaing secara bebas dengan kaum lelaki. Pencantuman angka tersebut, hanyalah untuk menagih janji sejumlah partai politik yang telah mengeluarkan komitmen untuk memperjuangkan keterwakilan perempuan. Kaum perempuan ingin menerapkan demokrasi bukan diskriminasi." (Republika, 14/02/03). Menyimak pernyataan tersebut, betapa menyedihkan jika perempuan hanya dianggap pelengkap dan alat untuk memancing perhatian masyarakat sebagai partai yang memperhatikan suara perempuan. Kenyataan ini tak bisa dipungkiri, sebab representasi dan partisipasi politik perempuan masih sangat rendah jika dibandingkan dengan laki-laki dalam kancah percaturan politik. Lebih ironisnya lagi, perempuan sudah diberi quota 30% tapi kenyataannya untuk memenuhi quota tersebut partai- partai politik masih berlomba mengejar perempuan berkualitas yang telah menjadi tokoh di masyarakat, karena nota bene jumlahnya sangat terbatas.

Keterlibatan perempuan dalam mengambil peran di panggung politik dan maju ke tempat-tempat umum (public sphere) juga masih di perdebatkan dan terus menuai pro dan kontra. Tak jarang agama dijadikan sebagai landasan untuk mendukung argumentasi keterlibatan perempuan, baik kalangan agamawan, politisi, hingga pemerhati perempuan. Peran perempuan di lingkup publik selama ini hanya dijadikan sebagai pelengkap (supplement) saja. Tak jarang keterlibatan mereka dijadikan penghias untuk kesenangan kaum laki-laki. Pada masa kampanye, artis- artis ibu kota yang pasti laris manis “dilamar” oleh partai untuk “ menghibur rakyat” dari satu propinsi ke propinsi yang lain. Sebaliknya peran serta perempuan dalam memberikan kebijakan (policy) sangatlah terbatas dan perempuan dianggap hanyalah sebagai wakil kelas dua ( sub ordinat). Kondisi ini sangat memprihatinkan, sebab, apa yang dilakukan oleh perempuan untuk memperjuangkan hak dan kewajibannya, ternyata harus berhadapan dengan dominasi laki-laki.

3. Aktivitas Ekonomi

Firman Allah SWT, yang artinya: “Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi orang perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan” (QS. An-Nisa’ ayat 32).

Pertanyaan apakah wanita boleh bekerja atau tidak dijawab oleh Muhammad Quthub, seorang pemikir Islam Mesir, dalam bukunya Ma’rakat Attaqaalid mengatakan: “Tidak ada ketentuan yang melarang wanita untuk bekerja, karena Islam tidak melarang demikian, tetapi juga tidak menganjurkannya.” Dalam bukunya yang lain, Syubhat Haula al-Islam, Quthub menerangkan dengan jelas : “Wanita pada zaman Rasulullah bekerja, ketika kondisi mereka mengharuskan berbuat demikian. Kenyataan tidak dapat dipungkiri, wanita berhak untuk bekerja. Karena dalam Islam wanita tidak dianjurkan keluar dari rumah kecuali untuk tugas-tugas tertentu, seperti tuntutan sosial atau untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

4. Aktivitas Sosial

Dalam salah satu bab “Women’s Involvement in Taking Care of Casualities” dikisahkan Al-Syifa, seorang pakar wanita telah diangkat oleh Khalifah Umar r.a. untuk mengurusi sebuah pasar di Madinah. Sudah barang tentu tidak semua profesi yang ada sekarang, ada juga pada masa Rasulullah.Namun demikian sebagian ulama tetap konsisten mengatakan bahwa Islam melegitimasi eksistensi wanita untuk ikut mengambil peran dalam aktifitas-aktifitas tertentu selama pekerjaan itu masih dalam batas-batas kewajaran dan bisa memelihara serta membentengi dari pengaruh-pengaruh negatif yang bisa menimbulkan fitanah bagi mereka.

Jika wanita diberi kesempatan untuk berkarya di masyarakat bahkan memimpin suatu perusahaan atau institusi, mereka tak kalah dengan laki-laki bahkan lebih disiplin dan teliti dalam pekerjaannya. Walaupun demikian jabatan sosial atau jenis pekerjaan jangan dijadikan sebagai alat untuk menilai keberhasilan seorang wanita. Wanita dapat dikatakan sukses bila ia dapat menjadi seorang isteri shalihah, dan ibu teladan yang dapat mengantarkan anak-anak mereka menghadap Allah SWT dengan selamat. Meminjam kata- kata AA Gym: Mualialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan pula oleh Rasulullah Muhammad S a.w. dalam sabdanya, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah" (HR. Muslim).

5. Keluarga

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderungdan merasa tenteram dan dijadikanrrya di antaramu rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum, 30: 21).

Dari ayat tersebut jelas bahwa laki-laki dan perempuan mem­punyai tugas masing- masing untuk saling menunjang dan saling melengkapi. Karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang berpasangan sebagai suami-isteri supaya hidup bersama-sama untuk saling mencintai dan saling mengasihi. Allah mengingatkan bahwa hal seperti itu hanya disadari oleh orang-orang yang berfikir. Untuk itu alangkah baiknya jika di setiap kesempatan kita merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di sekeliling kita, agar tingkat ketakwaan bertambah.

Aplikasi ketakwaan antara laki-laki dengan wanita bisa saja berbeda, karena tugas dan fungsinya yang berbeda pula. Misalnya saja dalam masalah keluarga, suami berkewajiban memberi nafkah, sedangkan wanita menjaga harta suami dan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk keperluan keluarga. Membentuk keluarga sakinah, mawaddatan warahmah adalah tugas utama suami dan istri.

Menurut Dr Ing Gina Puspita, seorang ahli perancangan pesawat andalan Indonesia yang merupakan potret wanita yang banyak berkarya, perempuan yang bekerja itu harus selalu was-was. Apakah keberadaan saya dengan anak-anak memberi pesan yang baru, sehingga mereka semakin dekat dengan Allah? Masalah pendidikan juga tidak sederhana. Kalau mengerjakan soal matematika gampang karana hasil benar salahnya cepat dapat terlihat. Tapi mendidik anak pada saat ini, hasilnya paling cepat mungkin seperempat abad kemudian. Anak-anak, keluarga adalah amanah utama yang akan ditanyakan di akhirat. Kalaupun Allah memberi amanah ilmu, tenaga, pikiran, maka sepatutnya dipergunakan untuk keluarga dan kemaslahatan umat. [oOo]

*) Rosmaladewi Rasyid, jamaah Pengajian Akhwat KPII, alumni University of Sydney, Australia.
Diterbitkan di Buletin Jumat KPII, No. 16, 14 Mei 2004.

Ana Khoiru Minhu

Oleh: Umi Purwandari *)

“Ana khoiru minhu” adalah yang diucapkan oleh pemimpin besarku ketika Allah s.w.t. memerintahkannya menghormat kepada manusia pertama, Adam a.s. Pemimpinku itu menolak perintahNYA, dan ketika ditanya olehNYA alasan dia menolak perintah maka dikatakanlah kalimat itu “aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah” (QS.Al A’Raaf:12). Kalimat sepotong itu rupanya dahsyat akibatnya, sejak itulah ia keluar dari nikmat syurgawi, bahkan siksa yang abadi kelak telah dipastikan baginya.

Dan kami, anak keturunannya, masuk dalam barisannya yang rapih, teratur dan cerdik penuh tipu-daya, melaksanakan tugas menggelincirkan anak keturunan manusia. Allah telah mengijinkan kami memperosokkan mereka ke dalam kehancuran, di dunia dan di akhirat. Jika kalimat itu mengakibatkan raja kami tak berhak tinggal dalam kenikmatan surga, maka kalimat itu pun akan dahsyat pula akibatnya ketika kami bisikkan ke dalam hawa nafsu manusia. Mereka akan meluncur jatuh dari kedudukannya yang paling mulia dibandingkan segala makhluk, menjadi yang bahkan lebih buruk dari hewan.

Aku tiupkan ‘ana khoiru minhu’ kepada orang-orang tua, sehingga mereka merasa lebih berharga daripada yang muda-muda. Seolah dengan menjadi tua umurnya, maka mereka pasti menguasai kebijaksanaan. Kubantu mereka lupa, bahwa hikmah datang dengan ilmu, yang mereka usahakan dengan belajar dan membaca, baik ayat kauniyah ataupun ayat kauliyah. Dan menuntut ilmu agama tidaklah mudah, kecuali bagi mereka yang sabar dalam kepayahan belajar. Maka mereka akan lalai, berpuas-diri merasa mulia, menuntut perhormatan dan ketaatan yang berlebihan dari orang-orang muda. Pada puncaknya, mereka tidak merelakan penghormatan itu meninggalkan mereka, maka mereka bunuh potensi orang-orang muda. Bukankah Fir’aun menjadi contoh yang hebat, dalam membunuh manusia berpotensi, karena tak rela kedudukannya lepas dari tangannya?

Aku bisikkan ‘ana khoiru minhu’ kepada orang-orang muda. Tubuh yang kuat dan indah dari orang-orang muda, pikiran yang kuat akan kujadikan awal mereka merasa lebih baik daripada orang-orang tua yang mulai kelihatan lemah. Aku buat mereka lupa bahwa, di antara orang tua, banyak yang telah melalui berbagai peristiwa yang menambah hikmah dalam jiwa mereka. Hikmah yang menjadi penting bagi keselamatan dan keberhasilan hidup seseorang. Tidak akan aku biarkan orang muda memetik hikmah itu dari orang-orang tua. Kutampakkan para orang tua menjadi makhluk lemah tak berguna bagi mereka. Kupalingkan muka mereka kepada hal-hal yang lebih menarik hawa nafsu.

Bagiku, sangat mudah menipu orang yang diberi banyak harta, agar mereka memiliki semangat ‘ana khoiru minhu’. Menjadi sifat sebagian manusia, mereka merasa sedang dimuliakan Allah ketika diberi banyak harta benda (QS. Al Fajr:15). Tak hentinya kubisikkan dalam kalbu mereka, bahwa mereka lebih baik daripada yang kurang berharta. Maka hilanglah rasa belas kasih. Sedangkan tanpa belas kasih, tak akan ada belas kasih yang datang baginya dari makhluk di bumi dan langit. Maka berkembanglah sifat rakus tak pernah puas dengan harta, sehingga tidak waspada terhadap cara mencari dan membelanjakannya. Kubantu mereka lupa bahwa harta adalah cobaan menyenangkan yang dapat dengan sangat gampang mengakibatkan manusia terjatuh kemuliaannya.

Orang miskin dan kurang pun tak kulepaskan dari hawa ‘ana khoiru minhu’. Maka tidak dapatlah ia menerima keputusan Tuhannya, akan pembagian rezki atau nasib di dunia. Sedangkan perhitungan Allah adalah sangat teliti. Lalu ia menginginkan kenikmatan hilang dari orang yang dipandangnya lebih bahagia karena berharta banyak, berkekuasaan, berparas lebih baik atau keadaan yang lebih baik lainnya. Ia terkena sifat dengki, menginginkan hilangnya nikmat orang lain, dan juga sifat tidak sabar, serta kufur nikmat.

Ketika semangat ‘ana khoiru minhu’ ada pada orang yang diberi kekuasaan di antara umat manusia, maka mereka akan mengambil hak-hak orang lain dengan tanpa sadar. Seolah hanya orang yang berkuasalah yang berhak hidup senang, sedang manusia tanpa kekuasaan tidak berhak mendapat kelapangan hidup. Disingkirkan oleh mereka orang yang tidak sepaham, sedangkan mereka belum tentu benar.

Tentu aku tak lupa menziarahi orang-orang yang dianggap alim ulama di antara manusia, dengan membawa ‘ana khoiru minhu’. Maka ia merasa lebih mulia. Jadilah ia membenci orang yang lebih alim darinya. Kadang jadi lengah pula ia, karena penghormatan manusia yang berlebihan kepadanya, menjadikannya merasa bahwa tanpa usaha mendekatkan diri padaNYA pun, Allah telah membebaskannya dari dosa. Bisa pula dengan ilmu dan kedudukan serta kepercayaan manusia kepadanya, ia mempermainkan agamaNYA, untuk kepentingannya. Begitu beraninya ia, karena kubantu ia dengan hembusan “aku lebih baik dari dia”.

Demikianlah, takkan kubiarkan manusia mensyukuri nikmat. Aku selipkan semangat ‘ana khoiru minhu’ di setiap nikmat yang diberikan Allah kepada manusia. Nikmat kesehatan, kepandaian, kekayaan, kecantikan, kekuasaan, kekuatan. Maka bukanlah mereka mensyukuri dengan segenap jiwa dan dengan tindakan mereka, melainkan malah memperbesar semangat ‘aku lebih baik dari dia’ dalam hati mereka. Demikianlah, setiap nikmat lalu menjadi niqmat (bencana).

Aku hembuskan ‘ana khoiru minhu’ di mana-mana. Di antara para ibu yang sedang berkumpul, sehingga sibuklah mereka mengumpulkan cela orang lain. Begitu pula di antara perempuan muda, laki-laki muda dan tua, orang pandai, orang kaya, orang kuat, orang berpengaruh, semua… Jika kutelah berhasil menjadikan mereka memandang rendah manusia lain, maka akan lebih mudah jalanku membimbing mereka kepada puncaknya: menolak kebenaran. Bukankah kaum Yahudi dan Nasrani sulit menerima kebenaran agamaNYA, hanya karena Nabi yang membawa petunjuk itu berasal dari garis keturunan Hajar, sang bekas budak. Sedangkan mereka berasal dari garis keturunan yang dipandangnya lebih terhormat: Sarah. Dan dengan tipuan kami pula maka orang tua, orang muda, orang cantik dan tampan, orang kaya, orang berkuasa, orang yang dimuliakan, orang yang dianggap pandai tidak dapat menerima kebenaran yang dibawa oleh orang yang mereka anggap lebih rendah. Pada puncak ini, lengkaplah sudah penyakit utama dalam hati manusia: sifat kibir. Yaitu sifat merendahkan orang lain dan menolak kebenaran.

Memang, kami tidak cuma cerdik dan pintar merencanakan seribu kelicikan, tapi kami juga gigih. Ingatkah cerita tentang pendeta Barshisha? Ia yang selama hidupnya beribadat kepada Allah, di akhir hayatnya menjadi kufur sujud di kaki Iblis, setelah menzinai gadis sakit dalam asuhannya, lalu membunuhnya.

Tapi sayang, usaha kami akan sia-sia belaka terhadap orang-orang yang mengikatkan seluruh aktifitas kehidupannya hanya untuk mendapat pengakuan dan keridlaaNYA (QS. Al Hijr:40). Terhadap mereka, tak ada yang dapat kami lakukan. Mereka adalah orang-orang yang di tengah semangat dan kerja-keras selama hidupnya, dalam jiwa mereka hanya ‘sepi’ berdua: diri mereka dan Allah s.w.t. Jalan mereka kepada kenikmatan hakiki adalah luas dan lapang tanpa penghalang. Di dunia mereka memperoleh ketenangan batin bebas dari ketakutan betapa pun besar kesulitan menghadang (QS.At-Taubah:18), dan di akhirat nikmat abadi telah disediakan (QS. At-Taubah:21-22). Bagaimana kami bisa menipu orang-orang seperti ini? Sedangkan malaikat tak putus berdoa untuk mereka? Sedangkan cinta Allah yang berlebih dilimpahkan kepada mereka? Mendekatkan pun kami tak mampu. Allah telah bersumpah menjamin keamanan mereka dari gangguan kamu. Sesungguhnya hamba-hamba-KU tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali, orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang sesat. (QS. Al Hijr:42) [oOo]


*)Kandidat PhD di Victoria University.
Diterbitkan di Buletin Jumat KPII, No.12, 9 April 2004.

Makanan Halal: Ibu, Engkaulah Pengambil Keputusan Itu

Oleh: Nelis Imanningsih*)

"Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu suatu beban yang berat, tetapi IA berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur." (Q.S.Al-Maidah: 6)

Suatu ketika seorang istri terhenyak ketika suaminya menanyakan hal yang sebelumnya tidak pernah dilontarkan, “Sayang, makanan yang kamu beli halal kan?” Terbata sang istri menjawab “ehh…sepertinya halal mas”. Andai pertanyaan yang sama terlontar pada saya, mungkin saya memerlukan beberapa saat untuk memikirkan apakah makanan yang saya beli benar-benar halal. Mengapa ketidakyakinan tersebut bisa muncul?

Saat ini, ketika teknologi sudah menjadi bagian kehidupan manusia, masalah makanan dan minuman halal menjadi relatif kompleks. Sehingga memilih makanan halal dari ribuan produk pangan industri, bukanlah sekadar proses memindahkan makanan tersebut dari atas rak supermarket kedalam keranjang belanja, akan tetapi merupakan proses seleksi yang harus dilakukan dengan kewaspadaan dan kehati-hatian. Rasanya kita tidak bisa merasa cukup aman hanya dengan memilih makanan yang tidak mengandung babi atau hewan yang tidak halal saja, akan tetapi makanan yang sepertinya halal karena bersumber nabati, bisa menjadi tidak halal karena teknologi pengolahan.

Sebagai contoh, siapa mengira bahwa tepung dan produk roti bisa menjadi tidak halal? kenyataannya bisa. Dalam proses pembuatan produk roti, terkadang ditambahkan “dough conditioner” yang melembutkan, megembangkan adonan dan memperpanjang umur simpan. Dough conditioner ini berisi berbagai jenis bahan, diantaranya L-sistein. Bahayanya, L-sistein yang paling murah dan kerap ditambahkan adalah yang diekstrak dari rambut manusia. Masih dalam pembuatan roti, terkadang sebagian tepung gandum digantikan oleh protein yang diisolasi dari plasma darah (bovine plasma protein isolate) dengan tujuan membentuk karakteristik yang baik. Kita pun tentu masih ingat kehebatan gelatin yang mempunyai beragam fungsi dalam perbaikan kualitas fisik makanan. Aditif ini dapat kita temui pada ice cream dan cake sebagai pengemulsi, pada permen sebagai pembentuk tekstur, bahkan pada juice buah sebagai penjernih, dan lain sebagainya. Kita pun akan terperangah jika mengetahui bahwa karena alasan efisiensi produksi sekitar 90% produksi gelatin dunia adalah berasal dari jaringan kolagen babi.

Proses pengolahan pangan pada skala industri, yang bertujuan untuk menyediakan produk pangan dalam jumlah besar, tahan simpan, mempunyai karakteristik fisik dan nutrisi yang baik, dan bernilai ekonomis, menyebabkan berkembangnya beraneka teknik pengolahan dan pengawetan makanan. Sebenarnya, teknik pengolahan pangan pada skala industri merupakan replika terhadap apa yang dilakukan ibu rumah tangga di dapur mereka. Namun karena proses tersebut melibatkan makanan dalam jumlah besar, penanganan dan proses yang dilakukan akan menjadi sangat rumit dan melibatkan bermacam-macam bahan baku, ataupun aditif (bahan tambahan makanan) yang dapat membantu proses pengolahan atau memperbaiki kualitas. Bahan aditif yang ditambahkan dalam jumlah sedikit ini merupakan hal penting dalam penentuan kehalalan suatu produk. Prinsip ‘bahwa hal yang haram dalam jumlah banyak, dalam jumlah sedikit juga haram’ berlaku. Sampai saat ini tercatat tidak kurang dari 280 macam zat aditif yang lazim digunakan dalam pengolahan pangan di Australia. Zat-zat aditif ini dapat terbuat dari berbagai macam sumber dan mempunyai berbagai macam fungsi. Fungsi yang populer antara lain adalah sebagai pengemulsi, bahan pengisi, pewarna, anti gumpal, memperkaya rasa dan aroma, penjernih, pencegah rasa tengik, pengembang dan pelembut. Dari jumlah aditif tersebut, kira-kira 10% nya berasal dari unsur hewani atau yang meragukan dan selebihnya berasal dari unsur nabati yang halal. Namun pada saat aditif tersebut sudah bercampur dengan makanan, dari segi rasa, penampakan atau aroma mustahil dibedakan asal bahan aditif tersebut.

Mungkin kita terkejut menyadari begitu banyak kemungkinan tercemarnya makanan yang seharusnya halal menjadi tidak halal, tapi itu adalah fakta yang ada di sekitar kita. Sehingga alangkah baiknya bila kita meningkatkan kehati-hatian. Islam mengajarkan kita untuk mengkonsumsi makanan yang baik dan halal seperti disebutkan dalam surat Al Maidah 88: "Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya."

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa baik, yaitu dari segi kesehatan, nutrisi dan estetika, dan halal dari segi syariah merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal tersebut merupakan dasar pemilihan makanan yang kita konsumsi. Menyitir kata-kata A’a Gym, bahwa “makan bukan hanya sekadar merasakan kenikmatan dari mulut sampai ke kerongkongan yang panjangnya hanya sejengkal, akan tetapi lebih dari itu makan adalah proses ibadah yang harus dijaga.”

Selain itu perlu kita ingat bahwa efek dari makanan haram yang masuk ke dalam tubuh adalah sangat dahsyat. Hadist shahih riwayat At-Tabrani mengatakan “… Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada orang yang memasukan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalan-amalannya selama 40 hari…”. Juga hadist lain dari Abu Hurairah yang berkata “Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka api neraka lebih utama baginya." Masya Allah, akankah kita menganggap remeh perkara makanan halal ini?

Pertanyaan yang dilontarkan sang suami kepada istrinya tadi adalah pertanyaan yang sangat wajar mengingat peran istri sebagai penyedia utama logistik keluarga. Dari survei konsumsi makanan yang bertahun-tahun dilakukan oleh Puslitbang gizi tempat saya bekerja, selalu terungkap bahwa ibu adalah pengambil keputusan utama terhadap apa yang dikonsumsi oleh keluarga. Dari segi nutrisi, terlihat hubungan yang erat antara makanan yang disediakan ibu dengan kecukupan gizi keluarga. Jika ibu cukup berpengetahuan dan pandai memilih, kebutuhan gizi keluarganya tercukupi. Dari survei yang dilakukan oleh majalah konsumen “Choice” juga terungkap peran dominan ibu dalam pemilihan makanan, sehingga tidak heran jika kerap kali ibu rumah tangga menjadi target iklan dengan tujuan untuk mempengaruhi “sang pengambil keputusan” untuk membeli produk yang diiklankan. Peran pengambil keputusan ini penting, apabila dikaitkan dengan masuknya makanan haram dan dalam menu sehari-hari keluarga. Begitu kompleksnya masalah teknologi pengolahan pangan, sehingga pemilihan makanan sudah tidak cukup dengan menggunakan ilmu “kirakira”, memilih berdasarkan bahan dasar makanan yang kira-kira halal. Lebih dari itu, diperlukan pengetahuan untuk memilih.

Membaca label pada kemasan merupakan salah satu jalan bagi seorang ibu untuk memilih makanan. Food Standard Australia mengharuskan produsen untuk mencantumkan “ingredients” utama dan bahan tambahan makanan yang digunakan selama proses produksi. Biasanya bahanbahan tersebut tercantum secara berurut dari bahan yang persentasinya terbesar sampai terkecil. Sehingga apabila kita membeli minuman berkarbonasi (misal ‘coca cola’), dapat terlihat bahwa sebenarnya kita membeli air, gula, pewarna, zat asam, perasa dan kafein. Sayangnya kerap kali bahan tambahan makanan yang dicantumkan adalah dalam bentuk kode-kode, yang untuk memahaminya, diperlukan informasi tambahan. Peraturan pelabelan tersebut juga memperbolehkan produsen untuk tidak mencantumkan bahan tambahan yang digunakan dalam proses pengolahan, selama kandungannya tidak melebihi 1 %. Sehingga kita tidak pernah yakin 100 % bahwa yang tercantum di label adalah apa yang kita makan, selalu ada 1% kemungkinan kita mengkonsumsi bahan yang tidak halal dan baik.

Sangatlah wajar bagi seorang ibu merasa berat dengan masalah pemilihan makanan halal ini. Syukurlah tugas berat ini sudah dipermudah dengan tersedianya “halal guide” dan sertifikasi makanan halal oleh lembaga terpercaya, sehingga tugas ibu rumah tangga dalam memilih menjadi lebih ringan. Jalan yang ditempuh dalam sertifikasi makanan halal adalah bukan sekedar penstempelan cap halal pada bungkus makanan, akan tetapi melibatkan runutan investigasi yang cukup panjang. Misalnya dalam mengkaji kehalalan mie instant, dipelajari apa yang menjadi titik rawan ketidakhalalal kemudian dilakukan penyelidikan. Biasanya pada produk ini titik rawannya adalah zat perasa yang digunakan, dari manakah asalnya dan bahan dasar apa yang digunakan. Apabila zat perasa diekstrak dari bahan alami misalnya ayam, juga perlu diketahui apakah ayam tersebut adalah berasal dari ayam yang halal, demikian seterusnya. Akibat panjangnya investigasi yang dilakukan, proses sertifikasi makanan halal juga dapat menambah biaya, sehingga seringkali kita temui bahwa harga makanan yang telah mendapat sertifikasi halal akan sedikit lebih mahal.

Dengan adanya kemudahan ini, rasanya seorang ibu seperti saya akan sangat berdosa jika karena alasan tidak mau repot melihat panduan halal dan menyeleksi cap halal, atau untuk mendapatkan bahan makanan yang sedikit lebih murah, saya membiarkan anggota keluarga mengkonsumsi makanan yang haram. Bukankah dalam surat Al-Maidah ayat 6 dikatakan bahwa Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu suatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur.

Dan ketika saya menyadari tujuan baik Allah menghendaki umatnya memakan makanan yang baik dan halal, saya berdoa didalam hati semoga saya dan setiap ibu muslimah yang diberi amanah selalu diberi kekuatan, kesabaran dan pengetahuan. Sehingga pada saat pertanyaan diatas kembali dilontarkan, ia dapat menjawab dengan mantap. “Insya Allah mas, makanan ini semua halal”.

Sumber bacaan:

* Masalah Halal: Kaitan Antara Syar’i, Teknologi dan Sertifikasi.
* Dr. Ir. H. Anton Apriyantono.
* www.indo-halal.com
* www.foodstandard.gov.au


*) Penulis adalah alumni Postgraduate School of Food Science and Technology UNSW (tahun 2004).
Artikel ini diterbitkan di Buletin Jumat KPII, No. 21, 18 Juni 2004.

Qiyamul Lail dan keutamaannya

Oleh Lisa utami

Sholat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu sholat sunnah mu’akad yang paling diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah meninggalkannya, baik ketika sedang bermukim maupun ketika berpergian.
Di dalam Al-Quran surah Al-Muzzammil dan Al-Muddatsir dijelaskan bahwa sholat malam merupakan kewajiban bagi rasululllah saw dan sunnah bagi ummatnya. Dan bagi yang ingin tampil sebagai reformis (mampu melakukan perubahan sosial), qiyamul lail merupakan syarat ruhiyah yang utama. Adalah sulit rasanya seorang Da'i akan berhasil dalam da'wahnya tanpa membiasakan diri dengan melaksanakan qiyamul lail.

Allah swt berfirman : " Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berikanlah peringatan. dan agungkanlah Tuhanmu". Al-Muddatsir 74:1-3.

Dalam ayat diatas disebutkan juga bahwa sebelum kalian memberikan peringatan kepada orang lain, maka kalian "qum" terlebih dahulu, yang dimaksud qum disini adalah bangun tidur dan qiyamul lail Alloh Swt berfirman: "Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah di tengah malam, kecuali sedikit yaitu setengahnya atau kurang sedikit. atau lebih dari setengahnya, dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil ". Al-Muzzammil 73:1-4. Tersirat juga anjuran bangun tidur tengah malam, kemudian menjalankan qiyamul lail yang diawali dengan membaca Al Qur’an secara tartil (maksudnya perlahan, jelas, benar membacanya/sesuai hukum tadjwid, masing-masing huruf mendapatkan haknya untuk dibaca panjang ataupun pendek, sehingga ketika mendengarnya mudah untuk mengikuti/jelas kandungan/makna ayatnya).

Qiyamul lail atau sholat malam merupakan ibadah sunah yang amat banyak memberikan bias positif kepada para pelakunya. Ibadah ini telah melahirkan insan-insan yang bertakwa, yang senantiasa memohon kepada Alloh, jujur, fathonah, konsisten beramal, dan sifat-sifat baik lainnya.

Rasulullah Saw senantiasa mendirikan qiyamul lail setiap malam. Beliau merasa nikmat dan asyik menjalankan sholat malam. Ibadah ini dilakukan beliau dengan sangat khusyuk dan bahkan agak lama hingga kaki beliau bengkak.

Demikian pula Umar Bin Khathab merasa tidak betah hidup lama didunia bila tidak menjalankan qiyamul lail. Ini sebuah ungkapan yang sungguh luar biasa, beliau menganggap qiyamul lail sebagai sesuatu yang amat penting dalam hidupnya.

Qiyamul lail merupakan kebiasaan orang-orang shalih umat saat ini maupun maupun yang terdahulu. Dengan rajin menegakkan qiyamul lail inilah kemudian mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang besar dan shalih. Bagi mereka menjalankan sholat ini merupakan nikmat yang luar biasa, sesuatu yang teramat indah, pengalaman spiritual yang tak dapat dilupakan serta bukti cinta seorang hamba kepada Alloh Ta’ala. Saat tenggelam dalam kekhusyukan qiyamul lail manusia dapat merasakan kedekatan pada Alloh Ta’ala dan senantiasa memohon kepadaNya.

Sholat malam ini telah menjadi bukti keshalihan seorang hamba, kejujuran serta kecintaan mereka kepada Alloh Ta’ala. Ibadah ini telah memberikan kontribusi dan andil yang cukup besar dalam upaya meningkatnya kualitas umat secara umum, bahkan memberikan pencerahan dalam kehidupan ruhiyah (spiritual) pelakunya.

Ciri-ciri pelaku qiyamul lail yaitu:
1. Bertakwa dan senantiasa berbuat baik.

Alloh Ta’ala berfirman:
“ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman surga dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka, sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit ekali tidur diwaktu malam. “(Adz Dzariyaat: 15-17)


Dengan demikian bahwa jelaslah qiyamul lail merupakan indikasi ketakwaan dan kebaikan seseorang.

2. Takut kepada akhirat, senantiasa memohon/berharap kepada Nya
3. Berilmu dan berpikir.
4. Berakal dan selalu ingat kepada Alloh Ta’ala.

Ada banyak nash-nash yang menjelaskan keutamaan sholat malam, diantaranya yaitu:

Alloh SWT berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik dan orang-orang yang melalui malam dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka“ (QS. Al-Furqon 63-64)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Alloh” (QS. Adz-Dzariyat 15-18)

Dari Abdulloh bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Di surga ada suatu ruangan yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam”. Abu Malik Al-Asy’ary bertanya: “Wahai Rasulullah bagi siapa tempat tersebut?”. Beliau menjawab: “Bagi orang yang baik ucapannya, memberi makanan pada orang lain dan orang yang melaksanakan sholat malam sedang orang lain masih tertidur” (HR at-Thobrony, al-Kabir/611)

Hasan Al-Banna Rahimahullah berkata, “Detik-detik malam itu mahal. Karena itu kalian jangan memurahkannya dengan kelalaian.” Perkataan beliau ini ditujukan kepada para da’i yang berjuang di jalan Alloh Ta’ala tentang rahasia agung yang membuat mereka sanggup menunaikan kewajiban dan bertahan di jalan dakwah.

Adapun kelebihan dari memanfaatkan detik-detik malam:

1. Merasa dekat dengan Alloh Ta’ala.

2. Lebih sabar.

3. Memudahkan kita menjalankan sholat dengan khusyuk, merendahkan diri dihadapan Alloh dan mengharapkan Rahmat Nya.

4. Menumbuhkan spirit ta’awun (kerjasama) serta istiqomah menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

5. Melindungi/membentengi diri dari kemaksiatan.

6. Menguatkan tubuh.


Demikianlah ihwal sholat malam (qiyamul lail) beserta keutamaannya. Semoga Alloh Swt berkenan menguatkan hati-hati kita untuk senantiasa menegakkan sholat malam serta berkhalwat denganNya di sepertiga malam. Dan semoga Alloh Swt berkenan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang shalih yang senantiasa ingat pada Nya dan iklas beribadah kepadaNya. Amin ya Rabbal alamin.

Demi Waktu

Oleh Miranda Risang Ayu

Sudah seberapa dalamkah Anda membaca ayat-ayat yang tertulis pada lembar-lembar Alquran, tersurat melalui kehadiran alam semesta, maupun tersirat di balik kenyataan diri? Sepuluh hari terakhir menjelang Idul Fitri, sudahkah Anda menemukan bahwa tasbih agung semua ciptaan-Nya ternyata juga menggema di kedalaman hati Anda.

Sehingga, semua yang biasanya tampak kontradiktif, terputus-putus, kabur, dan sementara, menjadi harmonis, padu, jelas, dan bernilai abadi? Sudahkah Anda bersua dengan malam yang hilang dalam cahaya, yang kehadirannya melenyapkan semua duka dan putus asa yang berkarat sejak kita pertama kali menghirup udara di dunia? Semoga bulan suci kali ini bukan hanya 30 hari cerita kelaparan dan kehausan saban siang.

Seorang teman dari Vietnam bertanya kepada saya, apakah yang paling saya benci selama 10 bulan terakhir ini. Dengan spontan saya menjawab, "Tekanan waktu." Kawan saya itu tertawa. Mungkin, sebagai sesama orang Asia, salah satu adaptasi terberat memasuki dunia barat adalah memasuki konsep waktu yang berbeda.

Di dunia barat, ketika mahasiswa-mahasiswa bekerja paruh waktu dan menjadi sadar penuh bahwa dolar di kantong amat bergantung pada banyaknya jam kerja, waktu adalah uang. Ketika seorang mahasiswa harus dipotong nilai ujiannya hanya karena terlambat sepuluh menit mengirim tugas akhirnya melalui internet, waktu adalah kesuksesan. Ketika seorang anak menyadari bahwa ibunya berada di sampingnya, tetapi berkutat dari pagi hingga pagi lagi dengan berkas-berkas pekerjaannya, waktu bisa jadi, adalah kasih sayang.

Maka, ketika waktu telah bermakna uang, kesuksesan atau kasih-sayang, usaha untuk menguasai waktu pun dimulai. Arloji menjadi aksesori wajib. Waktu dipecah-pecah, ditimbang-timbang, dan dijadikan komoditas. Waktu yang dibiarkan menekan ketat dan banyaknya energi yang harus dikeluarkan buat mencermati pemanfaatan waktu memang risiko efisiensi. Efisiensi berarti menguasai waktu.

Banyak orang menyangka bawa ketika waktu telah terjepit rapi di dalam agenda, waktu telah terkuasai. Padahal, saat itu, sang waktu tengah sukses meluputkan diri. Ke mana larinya dia? Ke dalam lipit-lipit keriput kulit yang terlambat disadari, ke dalam gumpal-gumpal darah yang seret oleh lemak jenuh fast food, ke dalam dendam anak-anak yang terlalu sering tersisih oleh kesibukan orang tuanya, ke dalam saat menyenangkan yang harus berakhir karena tidak ada uang, hingga ke balik kentong kematian yang berkelontang meskipun hayat masih enggan berpisah dari badan.

Bagi saya saat ini, biar pun semua tugas domestik hingga publik-akademik selesai juga, hari seringkali sudah terlalu larut untuk menghikmati bahwa ada waktu yang tersisa untuk bersyukur. Ketika waktu untuk bersyukur itu tiada, semua makna amal kegiatan pun menjadi hilang hanya dalam keletihan yang menjadi-jadi.

Padahal, waktu seharusnya tidak dibenci. Jika menghancurkan fisik, waktu pun mematangkan jiwa. Jika mendekatkan seseorang dengan kematian, ia pun mendekatkan seseorang dengan pertemuan terpenting, dan semestinya juga, terindah, dengan Yang Maha Pencipta. Jika mengakhiri saat-saat gembira dengan begitu tega, ia pun tampaknya ingin mengajarkan bahwa kebahagiaan itu semestinya berada "di dalam" susah maupun senang.

Kebahagiaan yang baka itu, yang tetap bersemayam dalam tawa maupun air mata, sesungguhnya adalah kesabaran yang bercahaya. Jika Anda telah menemukannya dalam bulan suci ini, sungguh tolong doakan agar semua Muslim, termasuk saya, juga dapat merasakan keindahannya yang tidak ada tara itu.

Sumber: Republika Online, 2 Desember 2002

The Right Man for The Right Job for The Right Reasons

Oleh: Ibu Popy Rufaedah

Untuk yang sudah terbiasa berorganisasi, istilah manajemen merupakan istilah yang tidak asing lagi. Tapi bagi yang tidak terbiasa berorganisasi pun sebenarnya istilah ini merupakan istilah yang akrab sehari-hari didengarnya. Manajemen merupakan suatu hal yang penting bagi kita saat ini, baik untuk perorangan, keluarga, kelompok maupun organisasi. Apalagi bagi yang tinggal di Negara seperti Australia yang menuntut kita hidup mandiri dengan tidak mengandalkan pembantu, pengelolaan segala aspek kehidupan kita harus betul-betul diperhatikan sehingga semua target-target terpenuhi. Manajemen bila diartikan dapat memiliki makna yang beragam, tergantung dari sisi pandang yang melihatnya. Salah satu arti manajemen yang populer didefinisikan sebagai suatu ‘art’ (seni) untuk mengelola sumber daya yang dimiliki agar tujuan tercapai. Isitilah ‘art’ menjadi fokus dalam manajemen, karena berhubungan dengan sumberdaya/resources yang dikelola untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan tersebut. Biasanya sumberdaya yang dikelola perusahaan terdiri dari 6M yaitu man (sumber daya manusia), money (uang/dana), machine (mesin/peralatan), method (metode/cara), material (bahan-bahan) dan market (pasar).

‘Art’ dalam manajemen akan menjadi sangat relevan bila dihubungkan dengan pengelolaan sumberdaya manusia (SDM), karena manusia itu hidup dan memiliki emosi sehingga diperlukan suatu seni. Berbeda dengan mengelola sumber daya ‘machine’, karena mesin tidak memiliki perasaan, maka tantangannya tidak seberat mengelola SDM. Bagi para manajer atau pengusaha yang terbiasa mengelola sumber daya yang beragam, mereka mampu membedakan karakteristik tiap SDMnya. Karena bila dikelompokkan manusia itu terdiri dari tipe X dan tipe Y. Manusia yang bertipe X memiliki karakteristik pasif atau tidak memiliki inisiatif, bila bekerja harus selalu diperintah atasan dan cenderung harus diawasi dalam menyelesaikan pekerjaannya. Manusia tipe ini pun rasa tanggung jawab nya terhadap perusahaan sangat kecil. Kebalikannya dengan tipe Y yang memiliki karakteristik aktif atau selalu memiliki inisiatif dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga atasan tidak perlu mengawasinya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Manusia tipe Y memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk membantu kesuksesan perusahaan. Oleh karena itu, manajemen bagi para manajer SDM pengertiannya dapat menjadi ‘choosing the right man for the right job.”

Tetapi kenyataan lain bisa kita temukan di Australia, khususnya di sektor informal, terdapat ketidaksesuaian SDM yang digunakan dengann ketersediaan pekerjaan yang ada. Artinya, pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh SDM dengan keterampilan dan pengetahuan tingkat tertentu dipenuhi oleh SDM dengan keterampilan dan pengetahuan yang lebih tinggi. Misalnya, pekerjaan cleaning service, tukang cat, waitress,dan shop assistant yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh SDM yang berpendidikan sekolah umum dikerjakan oleh SDM lulusan perguruan tinggi.

Fenomena ini menurut saya merukan suatu hal yang menarik karena bisa dikatakan kita melihat suatu keadaan dimana ‘the right man but not the right job’ itu ada. Banyak keuntungan yang berlipat ganda diperoleh perusahaan dengan memperkerjakan mereka yang memiliki pendidikan tinggi. Cenderung SDM tersebut bisa masuk dalam kategori manusia tipe Y, sehingga walaupun pekerjaannya kasar, tetapi perusahaan terhindar dari penurunan kualitas atas produk atau pelayanan yang dihasilkannya. Bahkan sebenarnya pengusaha Australia mendapatkan ‘the right man not for the right job but still for the right reasons’. Artinya, walaupun mereka yang bekerja di sektor informal dikerjakan oleh kualitas SDM yang tinggi tetapi mereka memiliki alasan yang jelas dalam melakukan pekerjaan tersebut, yaitu untuk ‘survive’. Contohnya tidak jauh-jauh, industri leisure and tourism di Australia, banyak memperkerjakan para backpacker atau pelancong mancanegara yang memiliki uang saku pas-pasan. Mereka mau dibayar dengan upah rendah dan dapat bekerja secara langsung pada saat dibutuhkan. Di sisi lain, sang pengusaha dapat berhemat biaya dari membayar tenaga kerja full time untuk menjalankan roda usahanya dan backpacker ini memperoleh uang saku cepat dengan bekerja di sektor tersebut tanpa diperlukan persyaratan administrasi ketenagakerjaan yang jelimet. Jadi beruntunglah para pengusaha Australia dan juga para backpacker itu.

Sebagai penutup kita perlu memahami bahwa ‘the right man for the right job for the right reasons’ itu sangat penting. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa bahkan sebagian besar Industri di Australia sangat tinggi menetapkan kriteria SDM untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sehingga produktivitas perusahaan terjamin karena mempertimbangkan standar khusus seperti latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, agar tujuan perusahaan/organisasi tercapai. Marilah kita juga konsisten menerapkannya dalam organisasi/perusahaan yang dikelola agar tidak hanya produktivitas organisasi tercapai tetapi tercapai pula efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya organisasi/perusahaan.

*) Popy Rufaidah adalah mahasisa program doktor di UNSW. Saat ini sebagai menjabat Ketua KBM UT (Kelompok Belajar Mahasiswa Universitas Terbuka) di Sydney.