Thursday, September 15, 2005

Ana Khoiru Minhu

Oleh: Umi Purwandari *)

“Ana khoiru minhu” adalah yang diucapkan oleh pemimpin besarku ketika Allah s.w.t. memerintahkannya menghormat kepada manusia pertama, Adam a.s. Pemimpinku itu menolak perintahNYA, dan ketika ditanya olehNYA alasan dia menolak perintah maka dikatakanlah kalimat itu “aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah” (QS.Al A’Raaf:12). Kalimat sepotong itu rupanya dahsyat akibatnya, sejak itulah ia keluar dari nikmat syurgawi, bahkan siksa yang abadi kelak telah dipastikan baginya.

Dan kami, anak keturunannya, masuk dalam barisannya yang rapih, teratur dan cerdik penuh tipu-daya, melaksanakan tugas menggelincirkan anak keturunan manusia. Allah telah mengijinkan kami memperosokkan mereka ke dalam kehancuran, di dunia dan di akhirat. Jika kalimat itu mengakibatkan raja kami tak berhak tinggal dalam kenikmatan surga, maka kalimat itu pun akan dahsyat pula akibatnya ketika kami bisikkan ke dalam hawa nafsu manusia. Mereka akan meluncur jatuh dari kedudukannya yang paling mulia dibandingkan segala makhluk, menjadi yang bahkan lebih buruk dari hewan.

Aku tiupkan ‘ana khoiru minhu’ kepada orang-orang tua, sehingga mereka merasa lebih berharga daripada yang muda-muda. Seolah dengan menjadi tua umurnya, maka mereka pasti menguasai kebijaksanaan. Kubantu mereka lupa, bahwa hikmah datang dengan ilmu, yang mereka usahakan dengan belajar dan membaca, baik ayat kauniyah ataupun ayat kauliyah. Dan menuntut ilmu agama tidaklah mudah, kecuali bagi mereka yang sabar dalam kepayahan belajar. Maka mereka akan lalai, berpuas-diri merasa mulia, menuntut perhormatan dan ketaatan yang berlebihan dari orang-orang muda. Pada puncaknya, mereka tidak merelakan penghormatan itu meninggalkan mereka, maka mereka bunuh potensi orang-orang muda. Bukankah Fir’aun menjadi contoh yang hebat, dalam membunuh manusia berpotensi, karena tak rela kedudukannya lepas dari tangannya?

Aku bisikkan ‘ana khoiru minhu’ kepada orang-orang muda. Tubuh yang kuat dan indah dari orang-orang muda, pikiran yang kuat akan kujadikan awal mereka merasa lebih baik daripada orang-orang tua yang mulai kelihatan lemah. Aku buat mereka lupa bahwa, di antara orang tua, banyak yang telah melalui berbagai peristiwa yang menambah hikmah dalam jiwa mereka. Hikmah yang menjadi penting bagi keselamatan dan keberhasilan hidup seseorang. Tidak akan aku biarkan orang muda memetik hikmah itu dari orang-orang tua. Kutampakkan para orang tua menjadi makhluk lemah tak berguna bagi mereka. Kupalingkan muka mereka kepada hal-hal yang lebih menarik hawa nafsu.

Bagiku, sangat mudah menipu orang yang diberi banyak harta, agar mereka memiliki semangat ‘ana khoiru minhu’. Menjadi sifat sebagian manusia, mereka merasa sedang dimuliakan Allah ketika diberi banyak harta benda (QS. Al Fajr:15). Tak hentinya kubisikkan dalam kalbu mereka, bahwa mereka lebih baik daripada yang kurang berharta. Maka hilanglah rasa belas kasih. Sedangkan tanpa belas kasih, tak akan ada belas kasih yang datang baginya dari makhluk di bumi dan langit. Maka berkembanglah sifat rakus tak pernah puas dengan harta, sehingga tidak waspada terhadap cara mencari dan membelanjakannya. Kubantu mereka lupa bahwa harta adalah cobaan menyenangkan yang dapat dengan sangat gampang mengakibatkan manusia terjatuh kemuliaannya.

Orang miskin dan kurang pun tak kulepaskan dari hawa ‘ana khoiru minhu’. Maka tidak dapatlah ia menerima keputusan Tuhannya, akan pembagian rezki atau nasib di dunia. Sedangkan perhitungan Allah adalah sangat teliti. Lalu ia menginginkan kenikmatan hilang dari orang yang dipandangnya lebih bahagia karena berharta banyak, berkekuasaan, berparas lebih baik atau keadaan yang lebih baik lainnya. Ia terkena sifat dengki, menginginkan hilangnya nikmat orang lain, dan juga sifat tidak sabar, serta kufur nikmat.

Ketika semangat ‘ana khoiru minhu’ ada pada orang yang diberi kekuasaan di antara umat manusia, maka mereka akan mengambil hak-hak orang lain dengan tanpa sadar. Seolah hanya orang yang berkuasalah yang berhak hidup senang, sedang manusia tanpa kekuasaan tidak berhak mendapat kelapangan hidup. Disingkirkan oleh mereka orang yang tidak sepaham, sedangkan mereka belum tentu benar.

Tentu aku tak lupa menziarahi orang-orang yang dianggap alim ulama di antara manusia, dengan membawa ‘ana khoiru minhu’. Maka ia merasa lebih mulia. Jadilah ia membenci orang yang lebih alim darinya. Kadang jadi lengah pula ia, karena penghormatan manusia yang berlebihan kepadanya, menjadikannya merasa bahwa tanpa usaha mendekatkan diri padaNYA pun, Allah telah membebaskannya dari dosa. Bisa pula dengan ilmu dan kedudukan serta kepercayaan manusia kepadanya, ia mempermainkan agamaNYA, untuk kepentingannya. Begitu beraninya ia, karena kubantu ia dengan hembusan “aku lebih baik dari dia”.

Demikianlah, takkan kubiarkan manusia mensyukuri nikmat. Aku selipkan semangat ‘ana khoiru minhu’ di setiap nikmat yang diberikan Allah kepada manusia. Nikmat kesehatan, kepandaian, kekayaan, kecantikan, kekuasaan, kekuatan. Maka bukanlah mereka mensyukuri dengan segenap jiwa dan dengan tindakan mereka, melainkan malah memperbesar semangat ‘aku lebih baik dari dia’ dalam hati mereka. Demikianlah, setiap nikmat lalu menjadi niqmat (bencana).

Aku hembuskan ‘ana khoiru minhu’ di mana-mana. Di antara para ibu yang sedang berkumpul, sehingga sibuklah mereka mengumpulkan cela orang lain. Begitu pula di antara perempuan muda, laki-laki muda dan tua, orang pandai, orang kaya, orang kuat, orang berpengaruh, semua… Jika kutelah berhasil menjadikan mereka memandang rendah manusia lain, maka akan lebih mudah jalanku membimbing mereka kepada puncaknya: menolak kebenaran. Bukankah kaum Yahudi dan Nasrani sulit menerima kebenaran agamaNYA, hanya karena Nabi yang membawa petunjuk itu berasal dari garis keturunan Hajar, sang bekas budak. Sedangkan mereka berasal dari garis keturunan yang dipandangnya lebih terhormat: Sarah. Dan dengan tipuan kami pula maka orang tua, orang muda, orang cantik dan tampan, orang kaya, orang berkuasa, orang yang dimuliakan, orang yang dianggap pandai tidak dapat menerima kebenaran yang dibawa oleh orang yang mereka anggap lebih rendah. Pada puncak ini, lengkaplah sudah penyakit utama dalam hati manusia: sifat kibir. Yaitu sifat merendahkan orang lain dan menolak kebenaran.

Memang, kami tidak cuma cerdik dan pintar merencanakan seribu kelicikan, tapi kami juga gigih. Ingatkah cerita tentang pendeta Barshisha? Ia yang selama hidupnya beribadat kepada Allah, di akhir hayatnya menjadi kufur sujud di kaki Iblis, setelah menzinai gadis sakit dalam asuhannya, lalu membunuhnya.

Tapi sayang, usaha kami akan sia-sia belaka terhadap orang-orang yang mengikatkan seluruh aktifitas kehidupannya hanya untuk mendapat pengakuan dan keridlaaNYA (QS. Al Hijr:40). Terhadap mereka, tak ada yang dapat kami lakukan. Mereka adalah orang-orang yang di tengah semangat dan kerja-keras selama hidupnya, dalam jiwa mereka hanya ‘sepi’ berdua: diri mereka dan Allah s.w.t. Jalan mereka kepada kenikmatan hakiki adalah luas dan lapang tanpa penghalang. Di dunia mereka memperoleh ketenangan batin bebas dari ketakutan betapa pun besar kesulitan menghadang (QS.At-Taubah:18), dan di akhirat nikmat abadi telah disediakan (QS. At-Taubah:21-22). Bagaimana kami bisa menipu orang-orang seperti ini? Sedangkan malaikat tak putus berdoa untuk mereka? Sedangkan cinta Allah yang berlebih dilimpahkan kepada mereka? Mendekatkan pun kami tak mampu. Allah telah bersumpah menjamin keamanan mereka dari gangguan kamu. Sesungguhnya hamba-hamba-KU tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka kecuali, orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang sesat. (QS. Al Hijr:42) [oOo]


*)Kandidat PhD di Victoria University.
Diterbitkan di Buletin Jumat KPII, No.12, 9 April 2004.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home