Thursday, September 15, 2005

Demi Waktu

Oleh Miranda Risang Ayu

Sudah seberapa dalamkah Anda membaca ayat-ayat yang tertulis pada lembar-lembar Alquran, tersurat melalui kehadiran alam semesta, maupun tersirat di balik kenyataan diri? Sepuluh hari terakhir menjelang Idul Fitri, sudahkah Anda menemukan bahwa tasbih agung semua ciptaan-Nya ternyata juga menggema di kedalaman hati Anda.

Sehingga, semua yang biasanya tampak kontradiktif, terputus-putus, kabur, dan sementara, menjadi harmonis, padu, jelas, dan bernilai abadi? Sudahkah Anda bersua dengan malam yang hilang dalam cahaya, yang kehadirannya melenyapkan semua duka dan putus asa yang berkarat sejak kita pertama kali menghirup udara di dunia? Semoga bulan suci kali ini bukan hanya 30 hari cerita kelaparan dan kehausan saban siang.

Seorang teman dari Vietnam bertanya kepada saya, apakah yang paling saya benci selama 10 bulan terakhir ini. Dengan spontan saya menjawab, "Tekanan waktu." Kawan saya itu tertawa. Mungkin, sebagai sesama orang Asia, salah satu adaptasi terberat memasuki dunia barat adalah memasuki konsep waktu yang berbeda.

Di dunia barat, ketika mahasiswa-mahasiswa bekerja paruh waktu dan menjadi sadar penuh bahwa dolar di kantong amat bergantung pada banyaknya jam kerja, waktu adalah uang. Ketika seorang mahasiswa harus dipotong nilai ujiannya hanya karena terlambat sepuluh menit mengirim tugas akhirnya melalui internet, waktu adalah kesuksesan. Ketika seorang anak menyadari bahwa ibunya berada di sampingnya, tetapi berkutat dari pagi hingga pagi lagi dengan berkas-berkas pekerjaannya, waktu bisa jadi, adalah kasih sayang.

Maka, ketika waktu telah bermakna uang, kesuksesan atau kasih-sayang, usaha untuk menguasai waktu pun dimulai. Arloji menjadi aksesori wajib. Waktu dipecah-pecah, ditimbang-timbang, dan dijadikan komoditas. Waktu yang dibiarkan menekan ketat dan banyaknya energi yang harus dikeluarkan buat mencermati pemanfaatan waktu memang risiko efisiensi. Efisiensi berarti menguasai waktu.

Banyak orang menyangka bawa ketika waktu telah terjepit rapi di dalam agenda, waktu telah terkuasai. Padahal, saat itu, sang waktu tengah sukses meluputkan diri. Ke mana larinya dia? Ke dalam lipit-lipit keriput kulit yang terlambat disadari, ke dalam gumpal-gumpal darah yang seret oleh lemak jenuh fast food, ke dalam dendam anak-anak yang terlalu sering tersisih oleh kesibukan orang tuanya, ke dalam saat menyenangkan yang harus berakhir karena tidak ada uang, hingga ke balik kentong kematian yang berkelontang meskipun hayat masih enggan berpisah dari badan.

Bagi saya saat ini, biar pun semua tugas domestik hingga publik-akademik selesai juga, hari seringkali sudah terlalu larut untuk menghikmati bahwa ada waktu yang tersisa untuk bersyukur. Ketika waktu untuk bersyukur itu tiada, semua makna amal kegiatan pun menjadi hilang hanya dalam keletihan yang menjadi-jadi.

Padahal, waktu seharusnya tidak dibenci. Jika menghancurkan fisik, waktu pun mematangkan jiwa. Jika mendekatkan seseorang dengan kematian, ia pun mendekatkan seseorang dengan pertemuan terpenting, dan semestinya juga, terindah, dengan Yang Maha Pencipta. Jika mengakhiri saat-saat gembira dengan begitu tega, ia pun tampaknya ingin mengajarkan bahwa kebahagiaan itu semestinya berada "di dalam" susah maupun senang.

Kebahagiaan yang baka itu, yang tetap bersemayam dalam tawa maupun air mata, sesungguhnya adalah kesabaran yang bercahaya. Jika Anda telah menemukannya dalam bulan suci ini, sungguh tolong doakan agar semua Muslim, termasuk saya, juga dapat merasakan keindahannya yang tidak ada tara itu.

Sumber: Republika Online, 2 Desember 2002

1 Comments:

At 5:15 PM, Blogger Lakers News said...

Really loved your blog post very informative hope you visit my indiana pacers news blog with pacers rumors Pacers News

 

Post a Comment

<< Home