Thursday, September 15, 2005

The Right Man for The Right Job for The Right Reasons

Oleh: Ibu Popy Rufaedah

Untuk yang sudah terbiasa berorganisasi, istilah manajemen merupakan istilah yang tidak asing lagi. Tapi bagi yang tidak terbiasa berorganisasi pun sebenarnya istilah ini merupakan istilah yang akrab sehari-hari didengarnya. Manajemen merupakan suatu hal yang penting bagi kita saat ini, baik untuk perorangan, keluarga, kelompok maupun organisasi. Apalagi bagi yang tinggal di Negara seperti Australia yang menuntut kita hidup mandiri dengan tidak mengandalkan pembantu, pengelolaan segala aspek kehidupan kita harus betul-betul diperhatikan sehingga semua target-target terpenuhi. Manajemen bila diartikan dapat memiliki makna yang beragam, tergantung dari sisi pandang yang melihatnya. Salah satu arti manajemen yang populer didefinisikan sebagai suatu ‘art’ (seni) untuk mengelola sumber daya yang dimiliki agar tujuan tercapai. Isitilah ‘art’ menjadi fokus dalam manajemen, karena berhubungan dengan sumberdaya/resources yang dikelola untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan tersebut. Biasanya sumberdaya yang dikelola perusahaan terdiri dari 6M yaitu man (sumber daya manusia), money (uang/dana), machine (mesin/peralatan), method (metode/cara), material (bahan-bahan) dan market (pasar).

‘Art’ dalam manajemen akan menjadi sangat relevan bila dihubungkan dengan pengelolaan sumberdaya manusia (SDM), karena manusia itu hidup dan memiliki emosi sehingga diperlukan suatu seni. Berbeda dengan mengelola sumber daya ‘machine’, karena mesin tidak memiliki perasaan, maka tantangannya tidak seberat mengelola SDM. Bagi para manajer atau pengusaha yang terbiasa mengelola sumber daya yang beragam, mereka mampu membedakan karakteristik tiap SDMnya. Karena bila dikelompokkan manusia itu terdiri dari tipe X dan tipe Y. Manusia yang bertipe X memiliki karakteristik pasif atau tidak memiliki inisiatif, bila bekerja harus selalu diperintah atasan dan cenderung harus diawasi dalam menyelesaikan pekerjaannya. Manusia tipe ini pun rasa tanggung jawab nya terhadap perusahaan sangat kecil. Kebalikannya dengan tipe Y yang memiliki karakteristik aktif atau selalu memiliki inisiatif dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga atasan tidak perlu mengawasinya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Manusia tipe Y memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk membantu kesuksesan perusahaan. Oleh karena itu, manajemen bagi para manajer SDM pengertiannya dapat menjadi ‘choosing the right man for the right job.”

Tetapi kenyataan lain bisa kita temukan di Australia, khususnya di sektor informal, terdapat ketidaksesuaian SDM yang digunakan dengann ketersediaan pekerjaan yang ada. Artinya, pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh SDM dengan keterampilan dan pengetahuan tingkat tertentu dipenuhi oleh SDM dengan keterampilan dan pengetahuan yang lebih tinggi. Misalnya, pekerjaan cleaning service, tukang cat, waitress,dan shop assistant yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh SDM yang berpendidikan sekolah umum dikerjakan oleh SDM lulusan perguruan tinggi.

Fenomena ini menurut saya merukan suatu hal yang menarik karena bisa dikatakan kita melihat suatu keadaan dimana ‘the right man but not the right job’ itu ada. Banyak keuntungan yang berlipat ganda diperoleh perusahaan dengan memperkerjakan mereka yang memiliki pendidikan tinggi. Cenderung SDM tersebut bisa masuk dalam kategori manusia tipe Y, sehingga walaupun pekerjaannya kasar, tetapi perusahaan terhindar dari penurunan kualitas atas produk atau pelayanan yang dihasilkannya. Bahkan sebenarnya pengusaha Australia mendapatkan ‘the right man not for the right job but still for the right reasons’. Artinya, walaupun mereka yang bekerja di sektor informal dikerjakan oleh kualitas SDM yang tinggi tetapi mereka memiliki alasan yang jelas dalam melakukan pekerjaan tersebut, yaitu untuk ‘survive’. Contohnya tidak jauh-jauh, industri leisure and tourism di Australia, banyak memperkerjakan para backpacker atau pelancong mancanegara yang memiliki uang saku pas-pasan. Mereka mau dibayar dengan upah rendah dan dapat bekerja secara langsung pada saat dibutuhkan. Di sisi lain, sang pengusaha dapat berhemat biaya dari membayar tenaga kerja full time untuk menjalankan roda usahanya dan backpacker ini memperoleh uang saku cepat dengan bekerja di sektor tersebut tanpa diperlukan persyaratan administrasi ketenagakerjaan yang jelimet. Jadi beruntunglah para pengusaha Australia dan juga para backpacker itu.

Sebagai penutup kita perlu memahami bahwa ‘the right man for the right job for the right reasons’ itu sangat penting. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa bahkan sebagian besar Industri di Australia sangat tinggi menetapkan kriteria SDM untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sehingga produktivitas perusahaan terjamin karena mempertimbangkan standar khusus seperti latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, agar tujuan perusahaan/organisasi tercapai. Marilah kita juga konsisten menerapkannya dalam organisasi/perusahaan yang dikelola agar tidak hanya produktivitas organisasi tercapai tetapi tercapai pula efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya organisasi/perusahaan.

*) Popy Rufaidah adalah mahasisa program doktor di UNSW. Saat ini sebagai menjabat Ketua KBM UT (Kelompok Belajar Mahasiswa Universitas Terbuka) di Sydney.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home