Thursday, September 15, 2005

Titipan yang Terindah

Oleh: Dian Hakim

“Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa “ (QS. 25:74)

Cuplikan ayat di atas adalah doa yang banyak diamalkan oleh kaum Muslimin, yang menggambarkan betapa kita mendambakan keluarga dan keturunan penerus umat yang baik kualitasnya dalam segala hal. Sebagai orang tua, kita juga mengharapkan bahwa anak-anak kita nantinya menjadi insan yang setidaknya berkualitas sama dengan orang tuanya atau bahkan lebih baik.

Anak adalah buah hati orang tuanya. Kehadirannya selalu ditunggu untuk meramaikan satu rumah tangga. Anak-anak adalah pelipur hati di saat duka, dan juga tambatan hati orang tuanya. Satu hal yang harus kita ingat setiap saat adalah bahwa anak merupakan amanah yang dititipkan Allah SWT kepada kita. Dia dilahirkan dalam keadaan putih bersih dan suci. Kitalah sebagai orangtua yang memberinya warna dan membentuk kepribadiannya. Dalam proses pembentukan kepribadian anak, sikap orangtua terhadap anak sangat mempengaruhi bagaimana hubungan anak dengan orangtua secara keseluruhan, termasuk di dalamnya pola asuh. Padahal, sikap orangtua sangat beragam, mulai dari kurang peduli sampai dengan yang sangat mencintai dan mencurahkan perhatian penuh kepada anak.

Jadi sikap orangtua terhadap anak mempengaruhi bagaimana orangtua memperlakukan anak, mendidik dan mengasuh anak (pola asuh), menghadapi perilaku-perilaku maupun kenakalan anak. Sikap merupakan keadaan yang menyifati hubungan orangtua terhadap anak.

Berikut ini ada beberapa tips praktis yang diharapkan dapat membantu para orangtua khususnya ibu dalam menghadapi beberapa masalah yang umum kita jumpai dalam mengasuh anak-anak kita.

Masalah yang pertama adalah komunikasi dengan anak. Komunikasi itu sendiri adalah suatu mekanisme yang menunjang kita untuk menciptakan, membina atau bahkan merusak suatu hubungan. Cara kita berkomunikasi satu dengan yang lainnya itulah yang membentuk hubungan kita dengan orang lain. Dalam hal berkomunikasi dengan anak, ada beberapa hal yang harus diingat. Yang pertama adalah bahwa perasaan seorang anak merupakan hal yang penting sekali sebagaimana pentingnya keberadaan mereka bagi kita. Jadi, kita harus mencoba untuk menyelami dan mengerti perasaan anak kita dari waktu ke waktu, dan untuk itu kita harus mendengar pendapat dan perkataan mereka. Kadang-kadang kita sebagai orangtua sering menuntut anak untuk mendengarkan dan mengikuti perkataan orangtua hanya untuk mendapatkan label ‘anak yang baik dan patuh’. Padahal anak itu sendiri mempunyai perasaan dan cara sendiri yang untuk memahaminya, dibutuhkan kepekaan orangtua. Pengenalan kita terhadap perasaan anak akan mengarah kepada perubahan yang positif pada tingkah laku anak, karena mereka merasa dihargai dan dimengerti oleh orangtuanya. Jadi, marilah kita mulai meluangkan waktu untuk mendengar anak kita, dan mengerti akan perasaannya. Dengan mengenalkan perasaan tersebut kepada anak kita, maka berarti kita telah mengajarkan kecerdasan emosi, yang akibatnya mereka merasa dihargai dan dimengerti, serta akan terhindar dari rasa frustasi yang menyebabkan tingkah laku negatif. Orangtua yang peka, mengenali, dan menghormati perasaan anak-anaknya akan menumbuhkan komunikasi yang lebih baik dengan anak dan juga memperbaiki tingkah laku anak.

Masalah kedua yang umum kita jumpai pada anak-anak kita adalah ‘tantrums’ yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan ‘mengamuk’. Mengamuk ini adalah sifat yang umum dijumpai pada anak usia pra sekolah yaitu sekitar 2 – 5 tahun. Biasanya anak-anak mengekspresikan perasaan marah dan frustasi mereka dengan bergulingan di lantai, menendang-nendang, berteriak, dan ada juga yang kadang-kadang menahan napasnya, tergantung sifat anak itu sendiri. Mengamuk ini adalah suatu proses yang alami, khususnya bagi anak-anak yang belum bisa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan mereka. Kebanyakan anak-anak mengamuk di tempat tertentu dan pada orang tertentu pula, misalnya di pusat perbelanjaan dan pada ibunya. Cara penanganan anak yang mengamuk ini tergantung tingkat energi yang dimiliki anak dan kesabaran orangtua menghadapinya. Untuk mengatasi anak yang mengamuk kita sebagai orang tua harus mempelajari dan mengamati tingkah laku anak kita sehingga kita bisa melihat kecenderungan apa saja yang memicu mereka untuk mengamuk dan apa yang terjadi pada saat itu serta hal apa yang bisa membantu meredakannya. Dengan pola tersebut kita bisa mencegah terjadinya ‘tantrums’ dan kalaupun sudah terjadi kita tahu bagaimana menanggulanginya. Contoh kasus yang sederhana dan sering dijumpai adalah anak yang ngambek pada saat diajak sang ibu berbelanja. Hal yang paling mungkin terjadi adalah sang anak bosan dan terlalu lama menunggu. Yang harus diantisipasi sang ibu adalah membawa mainan atau buku kesukaan anak kita, membawa makanannya dan berbelanja yang perlu saja dengan cara membuat daftar belanja.

Cara lain untuk menghadapi ngambeknya sang anak adalah dengan mengalihkan perhatian mereka dari hal yang membuat mereka marah dan mengamuk. Atau bila sudah terlanjur ngambek kita juga harus menjaga tingkat emosi kita sehingga tidak terbawa marah dengan pura-pura mengabaikan mereka dan tidak menanggapi ngambeknya sang anak. Kita juga bisa bernegosiasi dengan anak dan melakukan ‘timeout’, yaitu menghindar sebentar untuk menata emosi kita dan anak sehingga tidak ‘meledak’. Anak juga harus diberi pilihan dan sebaiknya kita menghindari ancaman sebagai senjata menghadapi anak, sehingga anak akan belajar bahwa mereka bertanggung-jawab terhadap hal-hal yang mereka kerjakan. Memberikan pujian kepada anak juga memacu anak bertingkah laku positif, karena mereka tahu pasti dan jelas bahwa kita suka dan bangga akan sikap mereka tersebut.

Terakhir, masalah yang umum dijumpai pada anak adalah susah makan. Banyak ibu yang sudah kehabisan akal dan jurus untuk merayu anaknya makan. Hal ini terkait dengan mitos bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat. Akibatnya banyak ibu yang memaksa bahkan mengancam anaknya untuk makan sehingga menciptakan suasana makan yang tidak menyenangkan dan malah dihindari oleh anak. Berikut ini ada beberapa hal yang memicu anak susah makan, antara lain adalah kurang sabarnya orangtua menyuapi atau menunggui anak makan sehingga anak selalu dalam keadaan terburu-buru makannya. Hal lain adalah orangtua menuntut anak untuk banyak makan padahal sang anak sudah merasa kenyang. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa makan terlalu banyak adalah perbuatan yang tidak baik dan hanya pantas bagi hewan-hewan. Anak-anak sudah mempunyai takaran sendiri, berapa kadar makanan yang diperlukan oleh tubuh mereka dan porsinya berbeda dengan orang dewasa. Suasana makan yang kurang menyenangkan juga membuat anak malas makan. Misalnya selama waktu makan orangtua mencekoki anak dengan nasihat-nasihat yang akhirnya membebani anak. Anak yang terlalu banyak jajan juga mengurangi konsumsi makan ‘besarnya’ karena anak sudah keburu kenyang.Gaya makan keluarga juga ikut mempengaruhi gaya makan anak, dan hal ini harus menjadi bahan introspeksi orangtua. Bila orangtua malas makan, anaknya tentu akan meniru kebiasaan orangtuanya dan orangtua tidak bisa memaksa anak untuk merubahnya karena anak hanya mencontoh kebiasaan orangtuanya.

Mendidik anak berlangsung setiap hari, setiap saat, setiap detik. Tulisan ini hanya mengulas sedikit sekali tentang peristiwa besar yang setiap saat dialami oleh buah hati kita. Semoga Allah SWT selalu memberi kita kesabaran dan petunjuk dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kita menjadi insan yang taqwa. Sesungguhnya anak adalah titipan terindah yang diamanahkan kepada kita, hal ini juga selalu mengingatkan kita untuk berbakti kepada kedua orangtua kita.

(Sumber dari “Salahnya Kodok” oleh Mohammad Fauzil Adhim dan “Tips and Ideas on Parenting Skills”, NSW Parenting Program for Mental Health) [oOo]


*) Diterbitkan di Buletin Jumat KPII, Edisi No. 11, 9 April 2004

0 Comments:

Post a Comment

<< Home