Thursday, September 15, 2005

Wanita: Berbedakah dengan Pria?

Oleh: Rosmaladewi Rasyid *)

Tak diragukan Islam adalah agama yang sempurna sebagai sebuah sistem hidup dan sistem hukum yang meliputi segala perkara yang dihadapi manusia. Allah Swt berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu...” (QS. An-Nahl 16:89)

"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah SWT" (Surah Al-An’am:6:57). "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, Rasul, dan Ulil Amri dari kalangan kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah masalah itu kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian." (SurahAn-Nisa’:4:59).

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka se- sungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata"(QS. Al Ahzab 36).

Jadi pada umumnya laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan kecuali yang merupakan kodrat Allah SWT seperti halnya hamil, me­lahirkan, dan menyusui, sehingga mengakibatkan perbedaan jasmaniah (biologis) dan perbedaan kejiwaan (psikologis) yang kemudian membedakan peran dan tugasnya. Bahkan dalam ke­hidupan sehari- hari, laki- laki dan perempuan mempunyai persamaan. Maka lahirlah istilah- istilah seperti di bawah ini:

1. Kesetaraan jender

Kesetaraan jender yaitu kesamaan kondisi untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan serta kesamaan hak dalam me­nikmati hasil pekerjaan atau pembangunan.

2. Keadilan jender

Keadilan jender adalah suatu kondisi dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Firman Allah, artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu ‘ (QS. Al Hujarat, 49: 13).

Ayat tersebut menjelaskan kesamaan antara laki-laki dan perempuan yang diciptakan oleh Allah SWT, dari berbagai bangsa dan suku dengan ciri khas masing- masing agar lebih mudah saling mengenal. Tak ada perbedaan di mata Allah SWT kecuali tingkat ketakwaan hambaNya. Dia memerintahkan untuk berlaku adil baik terhadap laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak ada diskriminasi di antara keduanya baik dalam perlakuan hukum maupun menjalankan hukum, atau syariat agama lainnya. Perbedaan laki-laki dan wanita bukanlah suatu halangan bagi manusia untuk mencapai ketakwaan kepada Allah SWT, karena Allah akan memuliakan siapa saja yang bertakwa kepada-Nya.

Aplikasi kesetaraan dan keadilan Jender

1. Aktivitas Keagamaan

Firman Allah SWT, yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun pe­rempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan lapangan kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa-apa yang mereka telah kerjakan”. (QS. An-Nahl ayat 97).

Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, jangan menyia- nyiakannya karena bernilai ibadah dihadapan Allah SWT, laki-laki yang beramal saleh akan mendapatkan pahala dan wanita yang beramal saleh akan mendapatkan pahala. Begitu pula sebaliknya dalam perbuatan dosa, laki-laki dan perempuan akan mendapatkan balasan yang setimpal” Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan sebesar biji zarrahpun niscaya ia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula (A- Zalzalah99:7-8).

Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Iman harus diaplikasikan dengan amal saleh, dan amal saleh harus dilandasi pada iman. Oleh karena itu, siapa saja yang menunjukkan imannya dalam bentuk amal yang saleh, insya Allah balasan berupa kehidupan yang baik menantinya.

2. Aktivitas Politik

Dapat disaksikan betapa maraknya partai islam turut meramaikan pesta pemilu tahun ini. Dengan demikian diharapkan tak ada lagi Islamophobia, di mana orang selain umat islam takut jika partai Islam membangun negara Islam atau menerapkan hukum Islam di Indonesia. Tugas umat islam selanjutnya adalah harus menunjukkan bahwa Islam bukanlah ancaman, melainkan “rahmatan llilalamin.” Tugas kita kemudian adalah memperjuangkan negara yang islami karena tak gunanya negara Islam bila tatanan masyarakatnya tidak islami.

Marwah Daud Ibrahim mengatakan bahwa “permintaan pencantuman angka 30% dalam quota partai politik adalah perlakuan khusus sementara, sampai tiba saatnya perempuan bersaing secara bebas dengan kaum lelaki. Pencantuman angka tersebut, hanyalah untuk menagih janji sejumlah partai politik yang telah mengeluarkan komitmen untuk memperjuangkan keterwakilan perempuan. Kaum perempuan ingin menerapkan demokrasi bukan diskriminasi." (Republika, 14/02/03). Menyimak pernyataan tersebut, betapa menyedihkan jika perempuan hanya dianggap pelengkap dan alat untuk memancing perhatian masyarakat sebagai partai yang memperhatikan suara perempuan. Kenyataan ini tak bisa dipungkiri, sebab representasi dan partisipasi politik perempuan masih sangat rendah jika dibandingkan dengan laki-laki dalam kancah percaturan politik. Lebih ironisnya lagi, perempuan sudah diberi quota 30% tapi kenyataannya untuk memenuhi quota tersebut partai- partai politik masih berlomba mengejar perempuan berkualitas yang telah menjadi tokoh di masyarakat, karena nota bene jumlahnya sangat terbatas.

Keterlibatan perempuan dalam mengambil peran di panggung politik dan maju ke tempat-tempat umum (public sphere) juga masih di perdebatkan dan terus menuai pro dan kontra. Tak jarang agama dijadikan sebagai landasan untuk mendukung argumentasi keterlibatan perempuan, baik kalangan agamawan, politisi, hingga pemerhati perempuan. Peran perempuan di lingkup publik selama ini hanya dijadikan sebagai pelengkap (supplement) saja. Tak jarang keterlibatan mereka dijadikan penghias untuk kesenangan kaum laki-laki. Pada masa kampanye, artis- artis ibu kota yang pasti laris manis “dilamar” oleh partai untuk “ menghibur rakyat” dari satu propinsi ke propinsi yang lain. Sebaliknya peran serta perempuan dalam memberikan kebijakan (policy) sangatlah terbatas dan perempuan dianggap hanyalah sebagai wakil kelas dua ( sub ordinat). Kondisi ini sangat memprihatinkan, sebab, apa yang dilakukan oleh perempuan untuk memperjuangkan hak dan kewajibannya, ternyata harus berhadapan dengan dominasi laki-laki.

3. Aktivitas Ekonomi

Firman Allah SWT, yang artinya: “Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi orang perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan” (QS. An-Nisa’ ayat 32).

Pertanyaan apakah wanita boleh bekerja atau tidak dijawab oleh Muhammad Quthub, seorang pemikir Islam Mesir, dalam bukunya Ma’rakat Attaqaalid mengatakan: “Tidak ada ketentuan yang melarang wanita untuk bekerja, karena Islam tidak melarang demikian, tetapi juga tidak menganjurkannya.” Dalam bukunya yang lain, Syubhat Haula al-Islam, Quthub menerangkan dengan jelas : “Wanita pada zaman Rasulullah bekerja, ketika kondisi mereka mengharuskan berbuat demikian. Kenyataan tidak dapat dipungkiri, wanita berhak untuk bekerja. Karena dalam Islam wanita tidak dianjurkan keluar dari rumah kecuali untuk tugas-tugas tertentu, seperti tuntutan sosial atau untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

4. Aktivitas Sosial

Dalam salah satu bab “Women’s Involvement in Taking Care of Casualities” dikisahkan Al-Syifa, seorang pakar wanita telah diangkat oleh Khalifah Umar r.a. untuk mengurusi sebuah pasar di Madinah. Sudah barang tentu tidak semua profesi yang ada sekarang, ada juga pada masa Rasulullah.Namun demikian sebagian ulama tetap konsisten mengatakan bahwa Islam melegitimasi eksistensi wanita untuk ikut mengambil peran dalam aktifitas-aktifitas tertentu selama pekerjaan itu masih dalam batas-batas kewajaran dan bisa memelihara serta membentengi dari pengaruh-pengaruh negatif yang bisa menimbulkan fitanah bagi mereka.

Jika wanita diberi kesempatan untuk berkarya di masyarakat bahkan memimpin suatu perusahaan atau institusi, mereka tak kalah dengan laki-laki bahkan lebih disiplin dan teliti dalam pekerjaannya. Walaupun demikian jabatan sosial atau jenis pekerjaan jangan dijadikan sebagai alat untuk menilai keberhasilan seorang wanita. Wanita dapat dikatakan sukses bila ia dapat menjadi seorang isteri shalihah, dan ibu teladan yang dapat mengantarkan anak-anak mereka menghadap Allah SWT dengan selamat. Meminjam kata- kata AA Gym: Mualialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan pula oleh Rasulullah Muhammad S a.w. dalam sabdanya, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah" (HR. Muslim).

5. Keluarga

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderungdan merasa tenteram dan dijadikanrrya di antaramu rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum, 30: 21).

Dari ayat tersebut jelas bahwa laki-laki dan perempuan mem­punyai tugas masing- masing untuk saling menunjang dan saling melengkapi. Karena Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang berpasangan sebagai suami-isteri supaya hidup bersama-sama untuk saling mencintai dan saling mengasihi. Allah mengingatkan bahwa hal seperti itu hanya disadari oleh orang-orang yang berfikir. Untuk itu alangkah baiknya jika di setiap kesempatan kita merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di sekeliling kita, agar tingkat ketakwaan bertambah.

Aplikasi ketakwaan antara laki-laki dengan wanita bisa saja berbeda, karena tugas dan fungsinya yang berbeda pula. Misalnya saja dalam masalah keluarga, suami berkewajiban memberi nafkah, sedangkan wanita menjaga harta suami dan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk keperluan keluarga. Membentuk keluarga sakinah, mawaddatan warahmah adalah tugas utama suami dan istri.

Menurut Dr Ing Gina Puspita, seorang ahli perancangan pesawat andalan Indonesia yang merupakan potret wanita yang banyak berkarya, perempuan yang bekerja itu harus selalu was-was. Apakah keberadaan saya dengan anak-anak memberi pesan yang baru, sehingga mereka semakin dekat dengan Allah? Masalah pendidikan juga tidak sederhana. Kalau mengerjakan soal matematika gampang karana hasil benar salahnya cepat dapat terlihat. Tapi mendidik anak pada saat ini, hasilnya paling cepat mungkin seperempat abad kemudian. Anak-anak, keluarga adalah amanah utama yang akan ditanyakan di akhirat. Kalaupun Allah memberi amanah ilmu, tenaga, pikiran, maka sepatutnya dipergunakan untuk keluarga dan kemaslahatan umat. [oOo]

*) Rosmaladewi Rasyid, jamaah Pengajian Akhwat KPII, alumni University of Sydney, Australia.
Diterbitkan di Buletin Jumat KPII, No. 16, 14 Mei 2004.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home